FUJITA ARASHI
Aku mengelus ukiran tulisan dimeja itu berkali – kali. Jujur, aku sangat merindukan Sora dan tawanya. Lima tahun berlalu dan rasa ini masih saja kuat tersimpan.
“Fuji ! aku memanggilmu”
“Ne~ Oneechan” aku tersenyum menatap Oneechan yang wajahnya di tekuk sedemikian rupa.
Wajahnya yang putih terpoles dandanan sederhana namun anggun. Aku kembali ke Seoul atas permintaannya. Seminggu lagi dia akan menikah dengan seorang pengusaha Seoul.
“Apa yang kau lakukan disini? Ayo pergi !” bentak Oneechan
“Kemana?” tanyaku polos.
“Hari ini aku akan memperkenalkanmu padanya !”
Aku mengerutkan dahiku dan menampakkan wajah bertanya. Oneechan semakin kesal, wajahnya pun memerah. Dia menarik daun telingaku dan berteriak “ CALON SUAMIKU !!”
“Orang yang belum pernah kau temui itu?” kataku ketus sambil mengelus telingaku. Oneechan membulatkan mataku dan segera membentuk kepalan tangan.
*
Alunan musik klasik terdengar bertalu – talu indah memenuhi ruangan. Aku memperhatikan lilin – lilin dengan seksama. Bentuknya seperti kelinci kecil yang sangat lucu. Hal ini mengingatkanku pada Sora, dia sangat menyukai kelinci.
“Ah Sora”
“Fuji, mereka datang”
Oneechan merapikan bajunya. Aku mengalihkan pandanganku dan menatap ke pintu. Seorang pria tegap dengan rambut berwarna kecoklatan tersenyum ke arah kami. Mataku terbelalak lebar melihat pria itu. Segera saja mataku teralihkan pada seorang gadis yang mengenakan dress biru tosca.
“S-s-s-ora?” gumamku pelan.
“Sora?” Oneechan bergumam kaget menatap gadis itu setelah mendengar gumamanku.
Oneechan dan kakak lelaki Sora terlihat canggung serta aneh dihadapan kami. Aku tidak berani menatap mata Sora karena jantungku berdegup kencang, sedih dan bahagia.
*
“Fuji, Oneechan sama sekali tidak tahu kalau Kuma maksud Oneechan . ..”
“Daijoubu” potongku kelu.
"Kami berhubungan tanpa tahu mengenai keluarga kami satu sama lain. Ah, seharusnya Oneechan memperkenalkan Kuma pada kalian. Maaf . . ."
"Daijoubu" ulangku sekali lagi.
Oneechan terus menatapku seakan ingin memastikan kalau aku baik – baik saja. Dia tahu hingga sekarang aku masih menyukai Sora tapi jika Oneechan dan kakak lelaki Sora menikah, maka aku dan Sora tidak akan pernah bisa bersatu karena keluargaku tidak akan mengijinkan hal itu. Akan ada karma yang menimpa keluarga besar kami. Itulah yang dikatakan Ayah dan Ibu.
“Fuji, Oneechan dan Kuma rela jika harus berpisah demi kalian” kata Oneechan sambil mendekatiku.
“Jangan ! Mungkin memang ini karma untukku yang tidak pernah jujur.”
Aku meninggalkan Oneechan dengan perasaan hampa. Mungkin ini salahku karena tidak pernah jujur akan kata hatiku. Aku terlalu takut untuk menyatakan semua yang kurasa. Dan disaat keberanian itu ada, keadaan telah berubah drastis.
*
Hari saat Oneechan menikah, aku memilih kembali ke Jepang. Aku belum siap melihat Sora, sekali lagi setelah lima tahun. Oneechan memahami keadaanku dan tak henti – hentinya meminta maaf.
Aku menitipkan sebuah boneka kelinci untuk Sora serta sebuah kertas kecil yang berisi kata hatiku.
Aishiteru Sora
***
Lee Soora
Aku masih belum mengganti gaun biru tosca yang aku kenakan di pesta tadi. Mataku masih terus memperhatikan mobil yang masih lalu lalang melalui jendela kamar hotel tempat kami menginap.
*flashback
Aku, woo jun dan oppa kami Lee Eun Jae pergi ke Jepang, kami akan menemui calon istri oppa. Sejak awal hubungan mereka, ia tak pernah sekalipun memperkenalkannya pada kami. Menurutnya, bukanlah waktu yg tepat untuk perkenalan jika ia belum memastikan arah hubungan mereka. Dia memang begitu, sejak dulu prinsipnya adalah hanya akan mempertemukan kami dengan gadis yang akan jadi calon istrinya jika mereka benar-benar akan menikah.
Dan kini saatnya, mereka memutuskan untuk menikah.
Selama di perjalanan, aku melihat raut wajah oppa sangat berbeda dari biasanya. Dia terus saja tersenyum bahkan bercanda dgn woo jun. Padahal senyum itu sempat hilang sejak orang tua kami tiada. Woo jun pun merasa aneh dgn sikap oppa, dia justru berpindah tempat duduk ke sampingku.
“oppa,”
“kau belum tidur?,” aku menoleh ke arah sumber suara itu. “oppa....,” tegurku datar. Oppa menggeser salah satu kursi lalu duduk di sampingku.
“gwenchana?,” tanya oppa padaku, aku menatapnya. Kemudian mengangguk. Oppa mengelus rambutku perlahan. Aku terkejut, oppa mengelus rambutku. Selama ini dia begitu dingin, setidaknya sejak ibu tiada. Dan dia tidak pernah melakukannya lagi.
“mianhe soora-ya,” kata oppa sambil tiba2 berlutut memelukku. “oppa jangan seperti ini,” kataku sambil menyuruhnya berdiri. “mianhae soora-ya, aku membuatmu tak bisa bersama Fujita,” kata oppa padaku.
“soora-ya,aku akan membatalkan pernikahanku dgn Itsuka. Aku ingin kau bahagia bersama Fujita,” katanya sembari melepas pelukannya dan menatapku.
Aku menatap oppa, terlihat sebutir air mata disana, kesedihan namun juga bahagia. Hatiku memang sakit, mengetahui kenyataan bahwa calon istri oppa adalah kakak perempuan fujita,Itsuka Arashi. Namun aku lebih memilih suara hati kecil ku, kebahagiaan oppa lebih penting untukku.
“soora-ya,aku akan membatalkan pernikahanku dgn Itsuka. Aku ingin kau bahagia bersama Fujita,” katanya sembari melepas pelukannya dan menatapku.
“oppa, kau bertanggung jawab atas aku dan woo jun. Sudah saatnya kau bahagia, sudah cukup lama kau menderita demi kami. Gwenchana oppa,” kataku sambil tersenyum. Aku ingin oppa yakin bahwa aku baik-baik saja.
Aku berdiri, sedikit menguatkan hati ku yang memang terluka. Aku berkacak pinggang dihadapan oppa
“Ya!! eun jae oppa! Kau lelaki, hentikan air matamu itu! Kau harus bahagia bersama itsuka!,” kataku lantang sembari menarik tangannya.
“Ya...appo!!” keluhnya sambil melepar genggamanku lalu mengelus tangannya. Dia melotot padaku, aku hanya terkekeh.
“kajja oppa!! Kau pasti lelah, istirahatlah,” kataku sambil mendorongnya keluar kamarku.
Aku menutup pintu rapat-rapat, duduk di sudut ruangan sambil menelungkupkan kepala di kedua lututku. Aku menangis, menagis mengeluarkan segala rasa kecewa yang ku pendam.
“senua demi oppa,” batinku.
to be continued

