AISHITERU – SARANGHAEYO [PART 5]

Posted by : Sisterhood di 23.28


FUJITA ARASHI

Hujan menetes satu per satu membasahi jejeran mawar merah di taman. Fujita lesu menatap keluar rumah, tangan kirinya menengadah keluar. Tetesan air dingin menggelayut di tangannya.

“Hujan” batin Fujita

***

“FUJI !!!!”

Pintu kamarku terbuka lebar dengan paksanya. Aku tersentak dari tidur lelapku. Seorang wanita putih berdiri dihadapanku seraya berkacak pinggang.

“Kau !! Bagaimana perjamuanmu semalam?”

“Bukan urusanmu onee chan” aku kembali menarik selimut hitam tebalku.

Onee chan menariknya dengan paksa dan membuang selimut itu ke lantai lalu berkata

 “B-A-K-A ! itu urusanku juga”

“Nande???!!” jawabku ketus.

“Nande? Masih bertanya seperti itu, jelas saja aku ingin tahu. Hey Fuji ayo bangun !”

Onee chan menarikku dengan paksa sehingga aku terjatuh dilantai. Oke , ini sudah keterlaluan, aku tidak suka tidurku terganggu sekalipun oleh Onee chan. Aku berdiri dengan kesal dan memasang kuda – kuda. Onee chan tersenyum meremehkan dan memukul kepalaku dengan keras.

“ONEE CHAN !!! “ teriakku sambil meringis.

“Terlalu cepat sepuluh tahun untukmu mengajakku berkelahi. I’m ur sunbae on this martial art, wakarimasen desu ka?”

“Cih,bahasa apa itu? Jepang , Korea, dan Inggris digabung jadi satu, cih” batinku.

Onee chan menyeringai lebar. Aku memang tidak bisa melawannya, dalam hal apapun. Oke, mungkin aku jago dalam bermain musik dan bela diri. Tapi Onee chan jauh lebih jago daripada aku. Setiap ada perlombaan, Onee chan selalu bisa meraih juara seadngkan aku hanya bisa menjadi ‘ekornya’.

“Ceritakan kejadian semalam” kata Onee chan sambil menarik kursi belajarku.

“Hah, seperti makan malam biasanya”

“Ck, payah kau”

“Terserahlah, yang jelas malam ini Sora mau kesini”

“Jadi nama gadis itu Sora? Sounds like japanesse name, sky”

Setelah berkata seperti itu, onee chan pergi meninggalkanku menggeleng bingung dikamar.

*

Aku merapikan kemeja kotak – kotakku sekali lagi. Entah mengapa jantungku berdegup sangat kencang. Berkali – kali aku mengintip taman rumah dengan cemas.

“Bisa tidak kau tenang sedikit Fuji?” kata Onee chan sambil menuruni tangga.

Aku menatapnya dengan takjub. Tubuhnya yang putih gading terbungkus sebuah little black dress pas badan. Rambutnya yang hitam dan panjang dikepang menyamping dengan pita putih besar.

“Aku memang cantik, tidak perlu terpana begitu Fuji”

Aku terkesiap kaget sementara Onee chan terus memasang cengiran menyebalkan diwajahnya. Onee chan memang manis namun sifatnya yang tomboy dan aneh itu membuat para pria terkadang tidak betah berada lama didekatnya. Jujur, terkadang aku juga tidak betah dengan tingkahnya.

“Tuan muda, Nona Sora sudah datang. Dia bersama seorang anak kecil” kata Miyamoto san perlahan.

Aku mengangguk dan melangkah gugup ke ruang tamu. Onee chan mengejarku seraya berbisik “Dia bawa anak kecil? Dia punya anak?”

“Hey Woo Jun, high five !!” kataku cepat ketika melihat Sora dan Woo Jun.

Sora tersenyum melihatku dan Woo Jun ber-high five ria. Sekilas aku menatapnya yang terlihat manis dengan balutan dress putih susu dengan renda detail dibagian bawahnya.

“Manis sekali” batinku.

“Ehem ehem” Onee chan berdehem kencang disebelahku.

“Ah,eh oh iya Sora kenalkan ini Onee chanku” kataku sambil mendorong Onee chan ke hadapan sora dan Woo Jun.

“Itsuka Arashi”

“Lee Sora”

“Lee Woo Jun” teriak anak kecil yang menggenggam erat tanganku.

Onee chan tersenyum dan melirik anak kecil itu, “ Imut sekali, mirip Fuji”

“Onee chan !”

Sora tersenyum pelan, wajahku memanas.

*

“Kalian sepertinya butuh waktu berdua” kata Onee chan setelah desert dihidangkan.

Aku melotot cepat ke arah Onee chan. Onee chan tersenyum jahil sambil membisikkan sesuatu padaku dengan menggunakan bahasa Jepang “katakan sekarang atau kau akan menyesal”

“Ada apa?” tanya Sora yang terlihat kebingungan.

“Eh ti- tidak apa – apa “ jawabku gugup.

Onee chan melirik ke arah Woo Jun dan berkata “ Woo Jun suka bela diri?”

Woo Jun mengangguk dengan makanan yang penuh dimulutnya.

“Bagaimana kalau Onee chan mengajarimu sebuah jurus andalan? Onee chan jago bela diri lho”

Woo Jun menyeringai lebar lalu dengan cepat mengikuti langkah Onee chan yang menjauh.

*

Aku berdiri canggung menatap jendela yang basah oleh rintik hujan. Siluet Sora terpantul cantik di kaca jendela yang bening.

“Sepertinya Woo Jun cocok dengan Onee chanmu”

“Eh iya” kataku sambil tersenyum.

“Semoga kita pun begitu” batinku.

Hening sekali lagi, entah mengapa aku merasa begitu gugup apalagi saat Onee chan menyinggung masalah perasaanku tadi.

“S-S-Sora?”

“Ne~?”

“Masakanmu yang kemarin enak, as usual of course”

Sora hanya tersenyum menanggapi kata – kataku.

“Aish, kenapa malah itu yang aku katakan” batinku.

“S-S-Sora . . .”

Sora melirikku.

“Aku s-s-s-suka makananmu”

“Iya, aku tahu” Sora tersenyum sekali lagi. Aku pasti terlihat sangat bodoh dihadapannya.

“Fuji suka gadis yang seperti apa?” kata Sora mendadak seraya menatap jendela.

“Kamu . . “ bibirku kelu sejenak “ maksudnya kalau kamu suka yang seperti apa?” kata ku cepat.

ARGGGGGGHHHH kesempatan bagus itu ku lewatkan lagi.

“Aku kan nanya ke kamu duluan” kali ini Sora menatapku.

“Eh i-i-itu gadis yang kuat dan jago bela diri” jawabku asal.

Sora membulatkan bibirnya dan kembali menatap jendela. Aku mengepalkan tanganku dengan kuat dan mengutuk diriku sendiri yang tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya.


Lee Soora

Perlahan aku mengangkat wajahku, rupanya aku tertidur saat menulis semalam. Saat aku membuka mata tadi, terdengar sedikit percikan air di luar. Dengan sigap aku menyibakkan tirai jendela dan melongokkan kepalaku keluar. Rupanya hujan baru saja berhenti. Aku tersenyum, seketika itu aku merasakan rindu yang begitu hebat. Segera kuraih pigura di meja belajarku, memandanginya sembari bergumam “fuji, apa kau lihat pelangi pagi ini? Aku rasa aku merindukanmu”.

*

“noona, kenapa aku harus ikut?” kata woo jun padaku. Ia tampak kesal karena kupaksa ikut bersamaku mengunjungi  fujita. Aku menghampirinya kemudian menunduk mengusap kepalanya. “woo jun, apa kau mau noona mu yg cantik ini hilang?,” tanyaku ramah padanya.

“aniyo, aku tak mau kehilangan noona ku yang bawel,” jawab woo jun cuek kemudian kembali asik dengan playstationnya. Mendadak wajah berubah kecut “anak nakal” batinku.

“kau yakin kau hanya mengantar saja?” tanya eun jae kakakku saat kami tiba di depan rumah fuji. “Ne, aku yakin oppa,” jawabku singkat.

“bagaimana jika anak ini mengacau?” tanya eunjae menunjuk woo jun yang masih asik dengan gamenya.

“ne, aku yakin oppa. Toh woo jun sangat patuh pada fuji bukan?” kataku padanya.

“geraeyo? Hmm...akan aku jemput tepat jam sepuluh.” Kata eun jae saat aku turun menggandeng woo jun.

“ne..”jawabku. “ ya! woo jun~ah! Jadilah anak baik, jangan buat masalah, okay?” kata eun jae pada woo jun.

Woo jun mengangguk bersemangat, “ne! Aku tidak akan nakal hyung, percaya padaku,” katanya riang. Eun jae dan aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya.

“baiklah, aku pergi dulu. Aku akan menemui jun kyu,” katanya sambil perlahan menutup kaca mobil. Aku mengangguk dan tetap berdiri di sana hingga mobil kakakku hilang dari pandanganku.

*

Seorang pelayan membukakan pintu untukku ketika aku dan woo jun tiba, tak berapa lama fujita muncul dengan seorang wanita. Wanita itu begitu cantik, kulitnya putih seputih gading. Saat ia berjalan aura  kecantikannya begitu terpancar,dan dia tersenyum ramah padaku.

“Hey Woo Jun, high five !! “ sorak fuji ketika melihat aku membawa woo jun datang. Woo jun kegirangan melihat fuji, mereka asik ber-high five ria. Aku menatap fuji, dia terlihat tampan dalam balutan kemeja kotak-kotaknya, casual namun rapi.

Tiba-tiba wanita itu berdehem, sepertinya dia menyadari saat aku menatap fuji tadi. Fuji memperkenalkan aku dengan wanita itu, rupanya dia adalah kakak perempuan fuji yang tempo hari di ceritakannya padaku.

“itsuka arashi,” katanya memperkenalkan diri.

Aku menundukkan kepala sambil memperkanalkan diriku “ lee soora”.

“lee woo jun” sorak woo jun girang. “ya! woo jun-ah.bersikaplah sopan,” tegurku.

“mianhamnida noona,” kata woo jun.

Makan malam hari itu sangata ramai karena ulah woo jun, dan fuji terpengaruh olehnya. Entahlah, saat itu aku merasa melihat sisi lain dari seorang fujita arashi. Dia seperti anak-anak.

*

Aku menatap embun yang membasahi jendela malam itu, dan menuliskan beberapa kata disana. Aku melihat bayangan fuji dari jendela, ia berjalan ragu mendekatiku.

“S-S-Soora?”

Aku berbalik, kau lihat ada sedikit keraguan di sana – di wajahnya.

“ne~?”

“masakanmu kemarin enak, as usual of course” katanya ragu. Aku melihat matanya tampak gelisah, seperti ada yang ingin dia bicarakan denganku. Aku tersenyum melihatnya. Suasana hening, aku lihat dia seperti berusaha mengatakan sesuatu, lalu aku menunggunya

“S-S-Soora..”

Aku hanya melirik ke arahnya, tingkahnya menjadi sedikit aneh. Aku ingin tertawa, tetapi aku takut dia marah jadi aku menahan tawaku.

“aku s-s-suka masakanmu”

Aku tersenyum melihat tingkahnya yang sedikit aneh malam itu, “iya aku tahu,”jawabku.

Sejenak hening, aku ataupun fuji tak ada yg membuka suara. Hingga tiba-tiba dengan spontan aku bertanya padanya “ fuji suka gadis seperti apa?” entah apa yang di pikiranku saat itu.

Fujita sedikit terperanggah, tampaknya ia kaget dengan pertanyaanku, dengan agak ragu ia menjawab “k-k-kamu”

Aku terkejut, sedikit perasaan senang menghampiri hatiku. Namun tiba-tiba dia melanjutkan perkataannya “maksudku kamu suka yang seperti apa?”

Ada sedikit kecewa dalam hati ku, namun segera ku tepis. Sepertinya aku sedikit besar kepala dengan kta-kata yang belum di selesaikannya tadi.

“hey..aku yang bertanya lebih dulu bukan?” protesku, aku berusaha menyembunyikan kekecewaanku.

“E-e-eh...itu..gadis yang kuat dan jago bela diri,” kata fuji kemudian.

Aku terkesikap, seperti ada yang menusuk jantungku dan terasa sakit seketika. Aku hanya membulatkan bibir dan ber-O ria.

Sesaat setelah itu keadaan kembali hening, kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Tak berapa lama woo jun dan noona nya fuji datang menghampiri kami.

“”noona, eun jae hyung telah datang menjemput,” kata woo jun padaku.

“ne~..ayo pulang,” kataku sambil meraih tangannya.

“eonni, terima kasih atas perjamuan malam ini. Fuji, gomawo,” kataku kepada mereka berdua. Fuji hanya tersenyum, aku masih melihat kegelisahan di wajahnya.

Itsuka tersenyum ramha padaku, dia memelukku dan berbisik “sering-seringlah kemari, akurlah dengan fuji”

Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya, “kami permisi pulang, selamata malam” kataku sambil menggandeng woo jun keluar.

“Sampai jumpa hyung,noona! Jangn lupa main ke rumah ya!” sorak woo jun girang.

Aku hanya diam selama perjalanan pulang, segala cerita woo jun tentang itsuka dan pertanyaan-pertanyaan eun jae hanya aku tanggapi dengan kata iya dan tidak.

“sepertinya aku harus belajar beladiri” bisikku pelan. Eun jae melirikku, ia mendengarnya.



click the labels at the left side to see another labels of our story

0 komentar:

Posting Komentar