FUJITA ARASHI
Semenjak kejadian malam itu, aku merasa canggung bertemu dengan Sora. Aku telah membohonginya dan hatiku sendiri.
“Sora mau kemana?” Ku beranikan diriku menyapanya.
Sora tampak kesusahan sendiri, dia tengah sibuk membereskan buku – bukunya yang berantakan di meja. Aku tersenyum kecut menatapnya yang terlihat tidak menghiraukan diriku.
“Maaf Fuji, aku buru – buru”
“Mau kemana?” tanyaku bingung.
“Aku . . . . aku mau latihan. Udah ya, annyeong hi gaseyo Fuji”
“Ne~”
Aku menatap punggung Sora yang menghilang dari balik pintu dengan cepat. Hari ini aku tidak bisa pulang cepat dengannya seperti hari – hari biasa. Jujur, aku ingin sekali mengatakan padanya apa yang aku rasakan tapi aku merasa ada yang aneh dengan hidupku. Selalu saja ada hal yang aneh yang menghalangi niatku.
“Hey Fuji ! “ Hwang Joo menepuk punggungku lalu melanjutkan, “tumben belum pulang. Mana Sora?”
“Dia sudah pulang duluan”
“Ah gadis itu, selalu kabur dari kejaranku”
Aku menatap Hwang Joo dengan heran. Untuk apa Sora melarikan diri dari Hwang Joo?
“Kamu belum tahu ya Fuji. Dia mencampakkan sahabatku dengan gampangnya”
Aku membulatkan mata sipitku dan berkata, “Hontou ni? Eh maksudku really?”
“Ne~ Dia bilang dia tidak menyukai sahabatku karena dia terlalu kasar. Dia lebih menyukai pria lembut dan pandai memasak. Padahal kau tahu Fuji? Sahabatku itu tidak kasar. Sora menjudgenya kasar hanya karena dia memegang sabuk hitam taekwondo !! ckckc”
Aku hanya bisa terdiam mendengar kata – kata Hwang Joo yang meluncur cepat dan lancar.
*
“Fuji !! apa yang kau lakukan di dapur?”
Onee chan berteriak tepat ditelingaku. Aku yang sedang sibuk mengocok telur, tersentak kesamping saking kagetnya.
“Ck, nani?”
“Nani mo nai, aku cuma heran saja melihat tingkahmu akhir – akhir ini. Sora kah?”
Aku mencuci tanganku dan bertolak pinggang lalu berkata, “Kalau iya kenapa Onee chan?”
“Ckckckckckckc, cinta buta”
Onee chan pun berlalu dari hadapanku sambil membawa sebuah apel merah. Aku pun melanjutkan kursus singkat memasakku. Berbekal tumpukan buku milik Nona Jang Min aku bisa memulai kursus memasak private di rumah.
“Tuan butuh bantuan?” kata Nona Jang dengan nada lembut padaku saat aku meminjam beberapa bukunya
“Tidak”
Aku ingin mencoba semuanya sendiri. Aku yakin aku pasti bisa. Semua ini kulakukan demi Sora, gadis yang sangat ku sukai.
***
LEE SOORA
“ ~ne,eomma. Aku pulang secepatnya,” kataku sambil berjalan terburu-buru melewati koridor. Tangan kiriku terus memainkan gantungan bintang pink kecil pemberian fuji. Aku menutup flap handphone dan meletakkannya di saku.
*
“ soora, mau kemana?” fuji menyapaku saat aku tengah sibuk membereskan buku-buku yang berserakan di meja.
“maaf fuji, aku buru-buru,” kata ku pada fuji, aku menyambar handphone di meja dan segera meninggalkan fuji yang masi berdiri di sana.
Aku menyandarkan tubuhku di dinding toilet, “maaf fuji,” bisikku. Aku membasuh wajahku dan menatap cermin, terlihat kebohongan disana. Kebohongan atas perasaanku sendiri.
Saat meninggalkan tolet, aku bertemu hwang joo di koridor namun aku segera berbalik arah menjauhinya.
*
“apa? Kau menolak yoo shin?,” kata hyun ah padaku sore itu. Hyun ah datang untuk mengajariku taekwondo sore itu. Dan aku menceritakan perihal hwang joo dan yoo shin padanya.
Aku menganguk. Hyun ah ikut-ikut mengangguk paham. Aku menyambar soft drink di meja dan meneguknya habis seketika itu juga. Entah mengapa aku merasa sangat haus sore itu.
Aku menyeka sisa soft drink di bibirku, “seminggu yang lalu dia menemuiku di perpustakaan. Kau tau, dulu kami cukup dekat. Tapi aku benar-benar tidak menyangka dia menyimpan perasaan padaku,” kataku kemudian.
Hyun ah tersedak tiba-tiba, soft drinknya menyembur wajahku. “Ya! minumlah perlahan. Kau membasahi wajahku,” protesku padanya. “Ya! yoo shin menyatakan perasaannya seminggu yg lalu dan kau baru mengatakannya sekarang. Apa aku ini benar sahabatmu?,” kata hyun ah sambil melemparkan handuk padaku.
“Ya! bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau sibuk? Aku tidak bisa menceritakannya di kelas. Dan kau sibuk di parlemen sekolah bukan?,” kataku sambil menangkap handuk dan menyeka keringatku.
“ah ~ne...,”jawabnya. “ya! tadi kau bilang kau tidak bisa menceritakannya di kelas. Jangan-jangan fuji belum tau?,” lanjut hyun ah kemudian.
“BINGO,” jawabku pendek. Hyun ah terheran-heran melihatku, kemudian dia meninggalkanku sendirian di pinggir kolam.
Tak lama, ada satu pesan masuk ke handphone ku, pesan dari fuji dari fuji
From: arashi fujita
Soora, kau terlihat aneh hari ini. Apa ada yg salah?
Aku tertegun membaca smsnya, sudah kuduga dia akan dengan cepat menyadari perubahan sikapku.
To: arashi fujita
Aniyo..
Tidak ada yg salah fuji, maaf.
Aku hanya sangat sibuk akhir-akhir ini. Mian..
Aku membaca kembali pesan yg akan kukirim padanya, dengan sedikit ragu aku menekan tombol “send”. “semoga dia tidak marah padaku,” gumamku.
“siapa yg marah,” kata hyun ah mengagetkan ku. “ah..aniyo...ng..fuji.. dia merasakan perubahan sikapku, aku rasa,” jawabku sambil terus menatap layar handphoneku. Keadaan menjadi hening tiba-tiba, aku dan hyun ah larut dalam pikiran kami masing-masing.
“kapan kau akan jujur padanya?,” tanya hyun ah tiba-tiba. Aku tercekat mendengar pertanyaannya. Aku menatap matanya lekat-lekat “jujur tentang apa?”tanyaku , dan seperti biasa dia hanya membalas dengan cengiran lebar sebelum menjawab, “jujur tentang perasaamu padanya dan tentang yoo shin,” kata hyun ah dengan ekspresi yg berubah seketika.
Aku kembali menatap handphoneku, fuji masih belum membalas. “Ya!,” tegur hyun ah. “ ~ne?,” jawabku sambil kembali duduk dihadapannya. “kau tidak mendengarkan pertanyaanku?,” tanya hyun ah.
“Aku mendengarmu....,” kataku sambil kembali melirik handphoneku. “apa dia belum membalas?,” tanya hyun ah padaku. Aku hanya mengangguk, “bisa jadi dia marah padamu,” celotehnya. Aku melotot padanya, dia terkekeh “mian, aku hanya bercanda. Sebaiknya kau cepat jujur padanya,” kata hyun ah menasehatiku.
“ entahlah....,” jawabku sambil berjalan kedalam rumah.
“ya!,” panggil hyun ah lagi. “ne?,” jawabku.
“apa yang kau katakan pada yoo shin minggu lalu saat dia menyatakan perasaannya padamu?,” tanya hyun ah.
Aku berpikir sejenak, mengingat-ingat apa yg aku katakan pada yoo shin minggu lalu.
“aku bilang aku menyukai lelaki yang lembut dan tidak kasar,” jawabku polos.
“kasar? Apa maksudmu? Bukankah yoo shin orang baik?,” kata hyun ah kemudian, dia merasa heran dengan jawabanku karena yang dia tau, hubunganku dengan yoo shin cukup baik.
“dia atlet taekwondo,” jawabku singkat.
“aneh! Kau tak suka pria kasar, lalu untuk apa kau menyuruhmu mengajarimu taekwondo hah?.”
Aku hanya menatap hyun ah sekilas, kemudian dia mengagguk paham.
“Cinta buta,” gumamnya, walaupun seperti bisikan aku bisa mendengarnya mengatakan itu.
Aku tersenyum meninggalkannya yang masih bingung dengan sikapku.
Tiba-tiba handphoneku bergetar, aku membuka flap handphoneku. Satu pesan dari fuji,
From: arashi fujita
Jika ada sesuatu yg terjadi, ceritakan padaku. Aku bisa melihat itu dari matamu.
Jangan buat aku panik dan khawatir. Jaga dirimu J
Aku menatap handphone ku lekat-lejat, rasanya aku ingin membalas pesan darinya. Tapi aku tak tau apa yg harus aku katakan.
“sepertinya aku harus jujur padanya,” batinku.
click the labels at the left side to see another labels of our story



0 komentar:
Posting Komentar