FUJITA ARASHI
Sebuah mobil Ford hitam metalik berhenti di depan rumah megah yang didiami Fujita dan Miyamoto san. Seorang gadis berambut hitam panjang berjalan anggun memasuki rumah itu. Senyumannya mengembang saat mendengar alunan piano.
*
Aku memilih menghabiskan waktu bermain piano ketika libur sekolah tiba. Aku ingin menikmati setiap dentingan tuts hitam putih piano di dalam kesunyian. Saat seperti ini sungguh sangat ku rindukan.
“Tuan, maaf mengganggu” kata Miyamoto san seraya mencondongkan badannya ke arahku.
“Ya, ada apa?” kataku sambil terus bermain piano.
“Ada yang datang , Nona . . .”
“FUJIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII”
Aku tersentak kaget mendengar teriakan seseorang. Mataku secara otomatis membelalak lebar saat melihat seorang gadis berlari menghampiriku. Gadis itu memasang cengiran yang sangat lebar lalu memelukku dengan sangat erat.
Dalam dekapan gadis itu aku menatap wajah Miyamoto san seakan berkata “Apa dia yang kau maksud?”. Miyamoto san mengangguk pasrah.
“Lepaskan aku nee-chan” kataku seraya mendorong tubuh gadis itu.
“Heh, kamu sudah berubah adik kecilku” gadis itu mengucak rambutku dengan cepat.
Aku menghentakkan tangannya dengan dengusan kesal. Aku tidak suka dianggap seperti anak – anak mengingat umurku yang sudah mencapai 17 tahun. Onee chan tersenyum lebar dan duduk dihadapanku dengan khidmat. Dia memberikan isyarat padaku untuk bermain piano. Aku mengerti maksudnya, dia ingin mendengarkan aku bermain piano seperti saat kita berdua berada di istana. Hampir dua tahun aku tidak bertemu dengan Oneechan. Setelah Ayah dan Ibu memilih untuk berpisah, Onee-chan memutuskan untuk tinggal bersama Ibu dan hidup sebagai seorang putri. Sejak saat itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.
Onee chan mengangguk khidmat sambil mendengarkan alunan lagu kesukaannya, twinkle twinkle. Aku tersenyum menatap Onee chan terlihat bahagia mendengar lagu yang aku bawakan. Lagu kesukaan kami sewaktu kecil.
“Ah Fuji, kamu makin hebat saja” kata Onee chan seraya mengacak – ngacak rambutku.
Aku mengelung kesal menatap Onee chan.
“Kau, sudah besar rupanya. Tidak seperti anak kucing kecil istana kami”
“Tentu saja Onee chan”
“Sudah punya pacar ?” Onee chan menggodaku dengan tatapan matanya yang jahil.
Wajahku memanas, bisa kurasakan darahku mengalir cepat ke wajahku yang putih.
“Wajahmu memerah, siapa gadis beruntung itu?”
“T-t-t-tidak ada”
“Hah . . ya korea tidak punya gadis manis rupanya. Ck, kalau begitu aku akan memberitahukan ibu untuk menjodohkanmu saja”
“JANGAN !! TIDAK BOLEH !!” teriakku secara otomatis.
Onee chan memasang cengiran jahilnya sekali lagi. Aku sudah terperangkap oleh perkataannya. Harusnya aku lebih santai menanggapi ocehannya tadi.
“Siapa gadis itu?” Onee chan menaikkan ke dua alisnya, hal itu terlihat sangat menyebalkan bagiku.
“Salah satu anak gadis dikelasku”
“Ohhh, aku disini hanya sebentar. Jangan lupa ajak dia main – main kesini, kalau bisa besok”
Aku mengangguk pasrah menanggapi perkataan Onee chan. Aku tidak ingin terlibat masalah dengannya karena hidupku pasti tidak akan nyaman. Sekarang yang aku pusingkan adalah bagaimana caranya mengajak Lee Sora datang ke rumahku ini?
“Argghhh Onee chan !!!”
Wanita itu berjalan terburu-buru menuju ruang kerjanya, hanbok modern yang dikenakannya tersibak mengikuti gerak langkahnya. Namun tiba-tiba ia memperlambat langkahnya. Raut wajahnya berubah, dia mendengar suara seseorang bersenandung. Wanita itu mengikuti arah datangnya suara senandung tersebut. Langkahnya terhenti di salah satu koridor, ia semakin memperlambat langkahnya. Dengan sedikit ragu, dia mengintip ke salah satu ruangan. Wanita itu tersenyum, melihat anak gadisnya sedang memasak dengan ceria. Wanita tersebut berbalik, “anakku telah beranjak dewasa,” batinnya.
*
Aroma sedap memenuhi ruangan, terlihat masakan di dalam panci meletup-letup pertanda matang. Aku bergegas mengambil dua mangkuk kecil dan sendok kecil, dan mengambil sedikit kimchi dan shabu-shabu yang baru saja matang.
“ajumma, ap anda melihat oppa?,” tanyaku pada bibi chang yg sedang menemaniku di dapur. Bibi chang yang melihatku sedikit kesulitan membawa dua buah mangkuk, kemudian mengambil satu mangkuk dari tanganku.
“tuan muda sedang belajar di kamarnya, nona,” jawab bibi chang kemudian.
“ah,,gamsahamnida. Ajumma, Bisa kah membantuku membawa mangkuk-mangkuk ini?,” penntaku kemudian sambil melirik satu mangkuk ditanganku dan satunya lagi ditangnnya. Bibi chang terkekeh melihat wajahku yang terlihat lelah.
“baiklah, tetapi setelah ini nona soora harus segera mandi. Sebentar lagi tuan pulang dan tuan muda arashi akan tiba satu jam lagi,” kata bibi chang mengingatkanku.
“ah..gamsahamnida. aku hampir lupa,” kataku sambil sedikit menepuk pipiku.
Aku bergegas menuju kamar kakak lelaki ku di lantai dua, terdengar begitu berisik dari bawah sini. Tepat saat aku membuka pintu, sebuah bantal melayang dan mengenai tembok di sampingku. Aku melihat adik lelakiku berada di sana.
Dengan kesal aku menghampiri mereka berdua, “kenapa kalian begitu menyebalkan? Bagaimana jika mengenai mangkuk ini?,”kataku sambil meletakkan mangkuk itu di meja.
“noona, apa itu makanan untukku?,” tanya Lee woo jun, adik lelakiku. Belum sempat aku menjawab, dengan sigap dia menyambar salah satu mangkuk dan melahapnya habis.
“noona, mengapa kau masak enak hari ini?,” kata woo jun sambil berusaha menelan makanan yang begitu penuh didalam mulutnya.
“ya! telan dulu makananmu itu. Menjijikkan!,” tegur kakakku dengan cueknya.
“mianhe hyung,” kata adikku patuh.
“Cih, anak ini mengapa begitu patuh pada oppa?” batinku. “ah sudahlah, mengapa kalian tidak segera mandi? Kita akan makan malam bukan?” lanjutku kemudian.
“noona, apakah hyung hyung fuji sudah tiba? Tanya woojun kemudian. “Ya! mengapa kau begitu tidak sopan? Sejak kapan kau memanggil nama kecilnya?” protesku sambil menjewer telinga adikku.
“noona, mengapa kau kejam pada adikmu sendiri?” kata woo jun padaku. “kau juga memanggilnya dengan nama kecil bukan? Apa hubungan kalian? ,” katanya kemudian.
“bukan urusanmu anak kecil,” kata ku sembari berjalan keluar kamar. Aku lihat oppa melirikku dan hanya menggeleng melihat kami berdebat. Aku bergegas keluar, dan berdiri sesaat di depan pintu. Aku menggenggam kedua tanganku dan meletakkannya di depan dadaku. Sangat terasa ketika jantungku berdegup cepat saat mendengar pertanyaan woojun. Anak itu selalu tau jalan pikiranku.
*
No other milik super junior masih mengalun di ipodku saat aku melirik arlojiku, jam 7 tepat. Aku merapikan riasan tipis pada wajahku, memperhatikan penampilanku sejenak kemudian bergegas menuju ruang keluarga.
Aku lihat kedua orang tua serta kakakku telah berada disana, sedangkan woo jun belum terlihat batang hidungnya. Aku mengambil tempat duduk disamping ayah, beliau baru saja pulang dari mengurus bisnisnya. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Wajahnya terlihat menjadi lebih tua, namun masih tampan, sangat mirip oppa.
“ah.. gadis kecilku sudah besar kau rupanya, kau sangat cantik seperti ibumu,” kata ayah saat melihatku datang. Aku hanya tersipu mendengar kata –kata ayah, sedangkan kakakku sedikit mencibir mengejekku.
“itu karena kau tak pernah pulang, makanya kau tak tau putri kecilmu sudah sebesar ini,” kata ibu pada ayah.
Kami berbincang cukup panjang saat itu, hingga woo jun datang dan dengan spontan memeluk ayah. Tak lama kemudian, penjaga rumah kai datang dan mengatakan bahwa arashi tiba.
Aku berlari kecil keluar dan menyambutnya. Dia mengenakan kemeja yang aku berikan dipadukan dengan jas hitam yang dia beli bersama ku dua minggu yang lalu. “tampan” batinku.
“ada apa?” kata fujita membuyarkan lamunanku. “mengapa kau menatapku seperti itu,soora? Apa ada yang salah?” tanya fujita padaku. Aku yakin dia melihatku saat wajahku berubah seperti kepiting rebus. “memalukan” batinku.
“aniyo, tidak ada apa-apa. Ayo masuk, ayah dan ibu menunggumu,” elakku. Fujita tersenyum dan mengikuti langkahku perlahan.
Ayah langsung menyapa fujita ketika ia tau aku masuk keruang makan bersama fujita, suasana menjadi cair saat ia datang. Aku melihat mereka semua tertawa, sangat menyenangkan.
*
Kami membicarakan banyak hal saat makan. Fujita bercerita tentang keluarganya pada ayah. Aku menceritakan sekolah. Ayah sangat antusias mendengarkan cerita kami semua. karena dia lama tidak berada di rumah, dia merindukan suasana rumah yang seperti ini begitulah katanya.
Sesaat setelah berbincang panjang lebar, fujita pamit kepada kedua orang tuaku. Aku dan kedua saudaraku mengantarnya hingga mobilnya.
“ hyung, terima kasih untuk malam ini,” kata fujita kepada kakakku. Kakakku hanya mengangguk, aku hanya menggelelng melihatnya. “terlalu pelit, bahkan untuk sedikit berbicara,” batinku.
“woo jun, kau hebat malam ini,” puji fujita pada adikku, sehabis makan tadi fujita sempat menemani woo jun bermain xbox. Itulah yg mereka berdua lakukan setiap kali fujita berkunjung.
“kau yang mengajari ku hyung,” kata woo jun sambil memasang cengiran yg begitu lebarnya.
Tiba-tiba kakakku menarik tangan woo jun dan membawanya meninggalkan kami berdua. “aku dan woo jun akan melanjutkan permainan kami,” teriak oppa dari kejauhan. Fujita hanya tersenyum.
“soora, terima kasih untuk makanannya. So delicious,” kata fujita memujiku. Aku hanya bisa tersenyum malu medengar pujiannya. “ ah, siapa yg mengajarimu memasak shabu? Aku menyukainya,” kata fujita kemudian.
“aah.. itu..bibi chang yang mengajari ku,” jawabku kemudian. Fujita mengangguk-angguk.
Suasana tiba-tiba hening, cukup lama. Sekitar 10 menit, hingga akhirnya fujita membuka suara.
“ah...soora, apakah besok malam kau sibuk? Tanya fujita padaku. Aku mengerutkan dahiku, “aniyo, aku tidak sibuk. Ada apa? Tanyaku padanya. fujita terdiam sesaat, sepertinya dia agak bingung untuk mengeluarkan kata-kata.
“ kakakku mengundangmu ke rumah kami,” katanya kemudian. “kakakmu?” tanyaku.
“ah..maaf aku lupa menceritakannya padamu, kakak perempuanku. Dia baru tiba kemarin dari jepang,” jelasnya kemudian. “apa kau bisa datang?” tanyanya, dia terlihat sangat menunggu jawaban dariku.
“ah..baiklah, akan aku tanyakan pada ibu. Aku rasa tidak jadi masalah,” jawabku kemudian.
Fujita tersenyum senang mendengar jawabanku.
“Aku pulang,” katanya sembari masuk kedalam mobil. Aku menunggu hingga mobilnya menghilang di tikungan depan rumahku.
“bertemu kakak perempuannya? Apa yang harus aku katakan padanya nanti?” gumamku dalam perjalanan kembali ke rumah induk.
click the labels at the left side to see another labels of our story



0 komentar:
Posting Komentar