AISHITERU - SARANGHAEYO [PART 7]

Posted by : Sisterhood di 18.30 0 Comments

FUJITA ARASHI

Aku mengelus ukiran tulisan dimeja itu berkali – kali. Jujur, aku sangat merindukan Sora dan tawanya. Lima tahun berlalu dan rasa ini masih saja kuat tersimpan.

“Fuji ! aku memanggilmu”

“Ne~ Oneechan” aku tersenyum menatap Oneechan yang wajahnya di tekuk sedemikian rupa.

Wajahnya yang putih terpoles dandanan sederhana namun anggun. Aku kembali ke Seoul atas permintaannya. Seminggu lagi dia akan menikah dengan seorang pengusaha Seoul.

“Apa yang kau lakukan disini? Ayo pergi !” bentak Oneechan
“Kemana?” tanyaku polos.
“Hari ini aku akan memperkenalkanmu padanya !”

Aku mengerutkan dahiku dan menampakkan wajah bertanya. Oneechan semakin kesal, wajahnya pun memerah. Dia menarik daun telingaku dan berteriak “ CALON SUAMIKU !!”

“Orang yang belum pernah kau temui itu?” kataku ketus sambil mengelus telingaku. Oneechan membulatkan mataku dan segera membentuk kepalan tangan.

*

Alunan musik klasik terdengar bertalu – talu indah memenuhi ruangan. Aku memperhatikan lilin – lilin dengan seksama. Bentuknya seperti kelinci kecil yang sangat lucu. Hal ini mengingatkanku pada Sora, dia sangat menyukai kelinci.

“Ah Sora”

“Fuji, mereka datang”

Oneechan merapikan bajunya. Aku mengalihkan pandanganku dan menatap ke pintu. Seorang pria tegap dengan rambut berwarna kecoklatan tersenyum ke arah kami. Mataku terbelalak lebar melihat pria itu. Segera saja mataku teralihkan pada seorang gadis yang mengenakan dress biru tosca.

“S-s-s-ora?” gumamku pelan.

 “Sora?” Oneechan bergumam kaget menatap gadis itu setelah mendengar gumamanku.
Oneechan dan kakak lelaki Sora terlihat canggung serta aneh dihadapan kami. Aku tidak berani menatap mata Sora karena jantungku berdegup kencang, sedih dan bahagia.

*

“Fuji, Oneechan sama sekali tidak tahu kalau Kuma maksud Oneechan . ..”

“Daijoubu” potongku kelu.

"Kami berhubungan tanpa tahu mengenai keluarga kami satu sama lain. Ah, seharusnya Oneechan memperkenalkan Kuma pada kalian. Maaf . . ."

"Daijoubu" ulangku sekali lagi.

Oneechan terus menatapku seakan ingin memastikan kalau aku baik – baik saja. Dia tahu hingga sekarang aku masih menyukai Sora tapi jika Oneechan dan kakak lelaki Sora menikah, maka aku dan Sora tidak akan pernah bisa bersatu karena keluargaku tidak akan mengijinkan hal itu. Akan ada karma yang menimpa keluarga besar kami. Itulah yang dikatakan Ayah dan Ibu.

“Fuji, Oneechan dan Kuma rela jika harus berpisah demi kalian” kata Oneechan sambil mendekatiku.

“Jangan ! Mungkin memang ini karma untukku yang tidak pernah jujur.”

Aku meninggalkan Oneechan dengan perasaan hampa. Mungkin ini salahku karena tidak pernah jujur akan kata hatiku. Aku terlalu takut untuk menyatakan semua yang kurasa. Dan disaat keberanian itu ada, keadaan telah berubah drastis.

*
Hari saat Oneechan menikah, aku memilih kembali ke Jepang. Aku belum siap melihat Sora, sekali lagi setelah lima tahun. Oneechan memahami keadaanku dan tak henti – hentinya meminta maaf.

Aku menitipkan sebuah boneka kelinci untuk Sora serta sebuah kertas kecil yang berisi kata hatiku.
Aishiteru Sora


***

Lee Soora

Aku masih belum mengganti gaun biru tosca yang aku kenakan di pesta tadi. Mataku masih terus memperhatikan mobil yang masih lalu lalang melalui jendela kamar hotel tempat kami  menginap.

*flashback

Aku, woo jun dan oppa kami Lee Eun Jae pergi ke Jepang, kami akan menemui calon istri oppa. Sejak awal hubungan mereka, ia tak pernah sekalipun memperkenalkannya pada kami. Menurutnya, bukanlah waktu yg tepat untuk perkenalan jika ia belum memastikan arah hubungan mereka.  Dia memang begitu, sejak dulu prinsipnya adalah hanya akan mempertemukan kami dengan gadis yang akan jadi calon istrinya jika mereka benar-benar  akan menikah.

Dan kini saatnya, mereka memutuskan untuk menikah.
Selama di perjalanan, aku melihat raut wajah oppa sangat berbeda dari biasanya. Dia terus saja tersenyum bahkan bercanda dgn woo jun. Padahal senyum itu sempat hilang sejak orang tua kami tiada. Woo jun pun merasa aneh dgn sikap oppa, dia justru berpindah tempat duduk ke sampingku.

“oppa,”
“kau belum tidur?,” aku menoleh ke arah sumber suara itu. “oppa....,” tegurku datar. Oppa menggeser salah satu kursi lalu duduk di sampingku.
“gwenchana?,” tanya oppa padaku, aku menatapnya. Kemudian mengangguk. Oppa mengelus rambutku perlahan. Aku terkejut, oppa mengelus rambutku. Selama ini dia begitu dingin, setidaknya sejak ibu tiada. Dan dia tidak pernah melakukannya lagi.

“mianhe soora-ya,” kata oppa sambil tiba2 berlutut memelukku. “oppa jangan seperti ini,” kataku sambil menyuruhnya berdiri. “mianhae soora-ya, aku membuatmu tak bisa bersama Fujita,” kata oppa padaku.
“soora-ya,aku akan membatalkan pernikahanku dgn Itsuka. Aku ingin kau bahagia bersama Fujita,” katanya sembari melepas pelukannya dan menatapku.

Aku menatap oppa, terlihat sebutir air mata disana, kesedihan namun juga bahagia. Hatiku memang sakit, mengetahui kenyataan bahwa calon istri oppa adalah kakak perempuan fujita,Itsuka Arashi. Namun aku lebih memilih suara hati kecil ku, kebahagiaan oppa lebih penting untukku.

“soora-ya,aku akan membatalkan pernikahanku dgn Itsuka. Aku ingin kau bahagia bersama Fujita,” katanya sembari melepas pelukannya dan menatapku.

“oppa, kau bertanggung jawab atas aku dan woo jun. Sudah saatnya kau bahagia, sudah cukup lama kau menderita demi kami. Gwenchana oppa,” kataku sambil tersenyum. Aku ingin oppa yakin bahwa aku baik-baik saja.

Aku berdiri, sedikit menguatkan hati ku yang memang terluka. Aku berkacak pinggang dihadapan oppa
“Ya!! eun jae oppa! Kau lelaki, hentikan air matamu itu! Kau harus bahagia bersama itsuka!,” kataku lantang sembari menarik tangannya.

“Ya...appo!!” keluhnya sambil melepar genggamanku lalu mengelus tangannya. Dia melotot padaku, aku hanya terkekeh.

“kajja oppa!! Kau pasti lelah, istirahatlah,” kataku sambil mendorongnya keluar kamarku.

Aku menutup pintu rapat-rapat, duduk di sudut ruangan sambil menelungkupkan kepala di kedua lututku. Aku menangis, menagis mengeluarkan segala rasa kecewa yang ku pendam.
“senua demi oppa,” batinku.

to be continued


click the labels at the left side to see another labels of our story

AISHITERU - SARANGHAEYO [PART 6]

Posted by : Sisterhood di 09.42 0 Comments

FUJITA ARASHI

Semenjak kejadian malam itu, aku merasa canggung bertemu dengan Sora. Aku telah membohonginya dan hatiku sendiri.

“Sora mau kemana?” Ku beranikan diriku menyapanya.

Sora tampak kesusahan sendiri, dia tengah sibuk membereskan buku – bukunya yang berantakan di meja. Aku tersenyum kecut menatapnya yang terlihat tidak menghiraukan diriku.

“Maaf Fuji, aku buru – buru”

“Mau kemana?” tanyaku bingung.

“Aku . . . . aku mau latihan. Udah ya, annyeong hi gaseyo Fuji”

“Ne~”

Aku menatap punggung Sora yang menghilang dari balik pintu dengan cepat. Hari ini aku tidak bisa pulang cepat dengannya seperti hari – hari biasa. Jujur, aku ingin sekali mengatakan padanya apa yang aku rasakan tapi aku merasa ada yang aneh dengan hidupku. Selalu saja ada hal yang aneh yang menghalangi niatku.

“Hey Fuji ! “ Hwang Joo menepuk punggungku lalu melanjutkan, “tumben belum pulang. Mana Sora?”

“Dia sudah pulang duluan”

“Ah gadis itu, selalu kabur dari kejaranku”

Aku menatap Hwang Joo dengan heran. Untuk apa Sora melarikan diri dari Hwang Joo?

“Kamu belum tahu ya Fuji. Dia mencampakkan sahabatku dengan gampangnya”

Aku membulatkan mata sipitku dan berkata, “Hontou ni? Eh maksudku really?”

“Ne~ Dia bilang dia tidak menyukai sahabatku karena dia terlalu kasar. Dia lebih menyukai pria lembut dan pandai memasak. Padahal kau tahu Fuji? Sahabatku itu tidak kasar. Sora menjudgenya kasar hanya karena dia memegang sabuk hitam taekwondo !! ckckc”

Aku hanya bisa terdiam mendengar kata – kata Hwang Joo yang meluncur cepat dan lancar.

*

“Fuji !! apa yang kau lakukan di dapur?”

Onee chan berteriak tepat ditelingaku. Aku yang sedang sibuk mengocok telur, tersentak kesamping saking kagetnya.

“Ck, nani?”

“Nani mo nai, aku cuma heran saja melihat tingkahmu akhir – akhir ini. Sora kah?”

Aku mencuci tanganku dan bertolak pinggang lalu berkata, “Kalau iya kenapa Onee chan?”

“Ckckckckckckc, cinta buta”

Onee chan pun berlalu dari hadapanku sambil membawa sebuah apel merah. Aku pun melanjutkan kursus singkat memasakku. Berbekal tumpukan buku milik Nona Jang Min aku bisa memulai kursus memasak private di rumah.

“Tuan butuh bantuan?” kata Nona Jang dengan nada lembut padaku saat aku meminjam beberapa bukunya

“Tidak”

Aku ingin mencoba semuanya sendiri. Aku yakin aku pasti bisa. Semua ini kulakukan demi Sora, gadis yang sangat ku sukai.
***


LEE SOORA

“ ~ne,eomma. Aku pulang secepatnya,” kataku sambil berjalan terburu-buru melewati koridor. Tangan kiriku terus memainkan gantungan bintang pink kecil pemberian fuji. Aku menutup flap handphone dan meletakkannya di saku.

*

“ soora, mau kemana?” fuji menyapaku saat aku tengah sibuk membereskan buku-buku yang berserakan di meja.

“maaf fuji, aku buru-buru,” kata ku pada fuji, aku menyambar handphone di meja dan segera meninggalkan fuji yang masi berdiri di sana.

Aku menyandarkan tubuhku di dinding toilet, “maaf fuji,” bisikku. Aku membasuh wajahku dan menatap cermin, terlihat kebohongan disana. Kebohongan atas perasaanku sendiri.

Saat meninggalkan tolet, aku bertemu hwang joo di koridor namun aku segera berbalik arah menjauhinya.

*

“apa?  Kau menolak yoo shin?,” kata hyun ah padaku sore itu. Hyun ah datang untuk mengajariku taekwondo sore itu. Dan aku menceritakan perihal hwang joo dan yoo shin padanya.

Aku menganguk. Hyun ah ikut-ikut mengangguk paham. Aku menyambar soft drink di meja dan meneguknya habis seketika itu juga. Entah mengapa aku merasa sangat haus sore itu.

Aku menyeka sisa soft drink di bibirku, “seminggu yang lalu dia menemuiku di perpustakaan. Kau tau, dulu kami cukup dekat. Tapi aku benar-benar tidak menyangka dia menyimpan perasaan padaku,” kataku kemudian.

Hyun ah tersedak tiba-tiba, soft drinknya menyembur  wajahku. “Ya! minumlah perlahan. Kau membasahi wajahku,” protesku padanya. “Ya! yoo shin menyatakan perasaannya seminggu yg lalu dan kau baru mengatakannya sekarang. Apa aku ini benar sahabatmu?,” kata hyun ah sambil melemparkan handuk padaku.

“Ya! bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau sibuk? Aku tidak bisa menceritakannya di kelas. Dan kau sibuk di parlemen sekolah bukan?,” kataku sambil menangkap handuk dan menyeka keringatku.

“ah ~ne...,”jawabnya. “ya! tadi kau bilang kau tidak bisa menceritakannya di kelas. Jangan-jangan fuji belum tau?,” lanjut hyun ah kemudian.

“BINGO,” jawabku pendek. Hyun ah terheran-heran melihatku, kemudian dia meninggalkanku sendirian di pinggir kolam.

Tak lama, ada satu pesan masuk ke handphone ku, pesan dari fuji dari fuji

          From:  arashi fujita
          Soora, kau terlihat aneh hari ini. Apa ada yg salah?

Aku tertegun membaca smsnya, sudah kuduga dia akan dengan cepat menyadari perubahan sikapku.

          To: arashi fujita
          Aniyo..
          Tidak ada yg salah fuji, maaf.
          Aku hanya sangat sibuk akhir-akhir ini. Mian..

Aku membaca kembali pesan yg akan kukirim padanya, dengan sedikit ragu aku menekan tombol “send”. “semoga dia tidak marah padaku,” gumamku.

“siapa yg marah,” kata hyun ah mengagetkan ku. “ah..aniyo...ng..fuji.. dia merasakan perubahan sikapku, aku rasa,” jawabku sambil terus menatap layar handphoneku. Keadaan menjadi hening tiba-tiba, aku dan hyun ah larut dalam pikiran kami masing-masing.

“kapan kau akan jujur padanya?,” tanya hyun ah tiba-tiba. Aku tercekat mendengar pertanyaannya. Aku menatap matanya lekat-lekat “jujur tentang apa?”tanyaku , dan seperti biasa dia hanya membalas dengan cengiran lebar sebelum menjawab, “jujur tentang perasaamu padanya dan tentang yoo shin,” kata hyun ah dengan ekspresi yg berubah seketika.

Aku kembali menatap handphoneku, fuji masih belum membalas. “Ya!,” tegur hyun ah. “ ~ne?,” jawabku sambil kembali duduk dihadapannya. “kau tidak mendengarkan pertanyaanku?,” tanya hyun ah.

“Aku mendengarmu....,” kataku sambil kembali melirik handphoneku. “apa dia belum membalas?,” tanya hyun ah padaku. Aku hanya mengangguk, “bisa jadi dia marah padamu,” celotehnya. Aku melotot padanya, dia terkekeh “mian, aku hanya bercanda. Sebaiknya kau cepat jujur padanya,” kata hyun ah menasehatiku.

“ entahlah....,” jawabku sambil berjalan kedalam rumah.

“ya!,” panggil hyun ah lagi. “ne?,” jawabku.

“apa yang kau katakan pada yoo shin minggu lalu saat dia menyatakan perasaannya padamu?,” tanya hyun ah.

Aku berpikir sejenak, mengingat-ingat apa yg aku katakan pada yoo shin minggu lalu.
“aku bilang aku menyukai lelaki yang lembut dan tidak kasar,” jawabku polos.

“kasar? Apa maksudmu? Bukankah yoo shin orang baik?,”  kata hyun ah kemudian, dia merasa heran dengan jawabanku karena yang dia tau, hubunganku dengan yoo shin cukup baik.

“dia atlet taekwondo,” jawabku singkat.
“aneh! Kau tak suka pria kasar, lalu untuk apa kau menyuruhmu mengajarimu taekwondo hah?.”
  
Aku hanya menatap hyun ah sekilas, kemudian dia mengagguk paham.
“Cinta buta,” gumamnya, walaupun seperti bisikan aku bisa mendengarnya mengatakan itu. 

Aku tersenyum meninggalkannya yang masih bingung dengan sikapku.

Tiba-tiba handphoneku bergetar, aku membuka flap handphoneku. Satu pesan dari fuji,

          From: arashi fujita
          Jika ada sesuatu yg terjadi, ceritakan padaku. Aku bisa melihat itu dari matamu.
          Jangan buat aku panik dan khawatir. Jaga dirimu J

Aku menatap handphone ku lekat-lejat, rasanya aku ingin membalas pesan darinya. Tapi aku tak tau apa yg harus aku katakan.

“sepertinya aku harus jujur padanya,” batinku.




click the labels at the left side to see another labels of our story

AISHITERU – SARANGHAEYO [PART 5]

Posted by : Sisterhood di 23.28 0 Comments


FUJITA ARASHI

Hujan menetes satu per satu membasahi jejeran mawar merah di taman. Fujita lesu menatap keluar rumah, tangan kirinya menengadah keluar. Tetesan air dingin menggelayut di tangannya.

“Hujan” batin Fujita

***

“FUJI !!!!”

Pintu kamarku terbuka lebar dengan paksanya. Aku tersentak dari tidur lelapku. Seorang wanita putih berdiri dihadapanku seraya berkacak pinggang.

“Kau !! Bagaimana perjamuanmu semalam?”

“Bukan urusanmu onee chan” aku kembali menarik selimut hitam tebalku.

Onee chan menariknya dengan paksa dan membuang selimut itu ke lantai lalu berkata

 “B-A-K-A ! itu urusanku juga”

“Nande???!!” jawabku ketus.

“Nande? Masih bertanya seperti itu, jelas saja aku ingin tahu. Hey Fuji ayo bangun !”

Onee chan menarikku dengan paksa sehingga aku terjatuh dilantai. Oke , ini sudah keterlaluan, aku tidak suka tidurku terganggu sekalipun oleh Onee chan. Aku berdiri dengan kesal dan memasang kuda – kuda. Onee chan tersenyum meremehkan dan memukul kepalaku dengan keras.

“ONEE CHAN !!! “ teriakku sambil meringis.

“Terlalu cepat sepuluh tahun untukmu mengajakku berkelahi. I’m ur sunbae on this martial art, wakarimasen desu ka?”

“Cih,bahasa apa itu? Jepang , Korea, dan Inggris digabung jadi satu, cih” batinku.

Onee chan menyeringai lebar. Aku memang tidak bisa melawannya, dalam hal apapun. Oke, mungkin aku jago dalam bermain musik dan bela diri. Tapi Onee chan jauh lebih jago daripada aku. Setiap ada perlombaan, Onee chan selalu bisa meraih juara seadngkan aku hanya bisa menjadi ‘ekornya’.

“Ceritakan kejadian semalam” kata Onee chan sambil menarik kursi belajarku.

“Hah, seperti makan malam biasanya”

“Ck, payah kau”

“Terserahlah, yang jelas malam ini Sora mau kesini”

“Jadi nama gadis itu Sora? Sounds like japanesse name, sky”

Setelah berkata seperti itu, onee chan pergi meninggalkanku menggeleng bingung dikamar.

*

Aku merapikan kemeja kotak – kotakku sekali lagi. Entah mengapa jantungku berdegup sangat kencang. Berkali – kali aku mengintip taman rumah dengan cemas.

“Bisa tidak kau tenang sedikit Fuji?” kata Onee chan sambil menuruni tangga.

Aku menatapnya dengan takjub. Tubuhnya yang putih gading terbungkus sebuah little black dress pas badan. Rambutnya yang hitam dan panjang dikepang menyamping dengan pita putih besar.

“Aku memang cantik, tidak perlu terpana begitu Fuji”

Aku terkesiap kaget sementara Onee chan terus memasang cengiran menyebalkan diwajahnya. Onee chan memang manis namun sifatnya yang tomboy dan aneh itu membuat para pria terkadang tidak betah berada lama didekatnya. Jujur, terkadang aku juga tidak betah dengan tingkahnya.

“Tuan muda, Nona Sora sudah datang. Dia bersama seorang anak kecil” kata Miyamoto san perlahan.

Aku mengangguk dan melangkah gugup ke ruang tamu. Onee chan mengejarku seraya berbisik “Dia bawa anak kecil? Dia punya anak?”

“Hey Woo Jun, high five !!” kataku cepat ketika melihat Sora dan Woo Jun.

Sora tersenyum melihatku dan Woo Jun ber-high five ria. Sekilas aku menatapnya yang terlihat manis dengan balutan dress putih susu dengan renda detail dibagian bawahnya.

“Manis sekali” batinku.

“Ehem ehem” Onee chan berdehem kencang disebelahku.

“Ah,eh oh iya Sora kenalkan ini Onee chanku” kataku sambil mendorong Onee chan ke hadapan sora dan Woo Jun.

“Itsuka Arashi”

“Lee Sora”

“Lee Woo Jun” teriak anak kecil yang menggenggam erat tanganku.

Onee chan tersenyum dan melirik anak kecil itu, “ Imut sekali, mirip Fuji”

“Onee chan !”

Sora tersenyum pelan, wajahku memanas.

*

“Kalian sepertinya butuh waktu berdua” kata Onee chan setelah desert dihidangkan.

Aku melotot cepat ke arah Onee chan. Onee chan tersenyum jahil sambil membisikkan sesuatu padaku dengan menggunakan bahasa Jepang “katakan sekarang atau kau akan menyesal”

“Ada apa?” tanya Sora yang terlihat kebingungan.

“Eh ti- tidak apa – apa “ jawabku gugup.

Onee chan melirik ke arah Woo Jun dan berkata “ Woo Jun suka bela diri?”

Woo Jun mengangguk dengan makanan yang penuh dimulutnya.

“Bagaimana kalau Onee chan mengajarimu sebuah jurus andalan? Onee chan jago bela diri lho”

Woo Jun menyeringai lebar lalu dengan cepat mengikuti langkah Onee chan yang menjauh.

*

Aku berdiri canggung menatap jendela yang basah oleh rintik hujan. Siluet Sora terpantul cantik di kaca jendela yang bening.

“Sepertinya Woo Jun cocok dengan Onee chanmu”

“Eh iya” kataku sambil tersenyum.

“Semoga kita pun begitu” batinku.

Hening sekali lagi, entah mengapa aku merasa begitu gugup apalagi saat Onee chan menyinggung masalah perasaanku tadi.

“S-S-Sora?”

“Ne~?”

“Masakanmu yang kemarin enak, as usual of course”

Sora hanya tersenyum menanggapi kata – kataku.

“Aish, kenapa malah itu yang aku katakan” batinku.

“S-S-Sora . . .”

Sora melirikku.

“Aku s-s-s-suka makananmu”

“Iya, aku tahu” Sora tersenyum sekali lagi. Aku pasti terlihat sangat bodoh dihadapannya.

“Fuji suka gadis yang seperti apa?” kata Sora mendadak seraya menatap jendela.

“Kamu . . “ bibirku kelu sejenak “ maksudnya kalau kamu suka yang seperti apa?” kata ku cepat.

ARGGGGGGHHHH kesempatan bagus itu ku lewatkan lagi.

“Aku kan nanya ke kamu duluan” kali ini Sora menatapku.

“Eh i-i-itu gadis yang kuat dan jago bela diri” jawabku asal.

Sora membulatkan bibirnya dan kembali menatap jendela. Aku mengepalkan tanganku dengan kuat dan mengutuk diriku sendiri yang tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya.


Lee Soora

Perlahan aku mengangkat wajahku, rupanya aku tertidur saat menulis semalam. Saat aku membuka mata tadi, terdengar sedikit percikan air di luar. Dengan sigap aku menyibakkan tirai jendela dan melongokkan kepalaku keluar. Rupanya hujan baru saja berhenti. Aku tersenyum, seketika itu aku merasakan rindu yang begitu hebat. Segera kuraih pigura di meja belajarku, memandanginya sembari bergumam “fuji, apa kau lihat pelangi pagi ini? Aku rasa aku merindukanmu”.

*

“noona, kenapa aku harus ikut?” kata woo jun padaku. Ia tampak kesal karena kupaksa ikut bersamaku mengunjungi  fujita. Aku menghampirinya kemudian menunduk mengusap kepalanya. “woo jun, apa kau mau noona mu yg cantik ini hilang?,” tanyaku ramah padanya.

“aniyo, aku tak mau kehilangan noona ku yang bawel,” jawab woo jun cuek kemudian kembali asik dengan playstationnya. Mendadak wajah berubah kecut “anak nakal” batinku.

“kau yakin kau hanya mengantar saja?” tanya eun jae kakakku saat kami tiba di depan rumah fuji. “Ne, aku yakin oppa,” jawabku singkat.

“bagaimana jika anak ini mengacau?” tanya eunjae menunjuk woo jun yang masih asik dengan gamenya.

“ne, aku yakin oppa. Toh woo jun sangat patuh pada fuji bukan?” kataku padanya.

“geraeyo? Hmm...akan aku jemput tepat jam sepuluh.” Kata eun jae saat aku turun menggandeng woo jun.

“ne..”jawabku. “ ya! woo jun~ah! Jadilah anak baik, jangan buat masalah, okay?” kata eun jae pada woo jun.

Woo jun mengangguk bersemangat, “ne! Aku tidak akan nakal hyung, percaya padaku,” katanya riang. Eun jae dan aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya.

“baiklah, aku pergi dulu. Aku akan menemui jun kyu,” katanya sambil perlahan menutup kaca mobil. Aku mengangguk dan tetap berdiri di sana hingga mobil kakakku hilang dari pandanganku.

*

Seorang pelayan membukakan pintu untukku ketika aku dan woo jun tiba, tak berapa lama fujita muncul dengan seorang wanita. Wanita itu begitu cantik, kulitnya putih seputih gading. Saat ia berjalan aura  kecantikannya begitu terpancar,dan dia tersenyum ramah padaku.

“Hey Woo Jun, high five !! “ sorak fuji ketika melihat aku membawa woo jun datang. Woo jun kegirangan melihat fuji, mereka asik ber-high five ria. Aku menatap fuji, dia terlihat tampan dalam balutan kemeja kotak-kotaknya, casual namun rapi.

Tiba-tiba wanita itu berdehem, sepertinya dia menyadari saat aku menatap fuji tadi. Fuji memperkenalkan aku dengan wanita itu, rupanya dia adalah kakak perempuan fuji yang tempo hari di ceritakannya padaku.

“itsuka arashi,” katanya memperkenalkan diri.

Aku menundukkan kepala sambil memperkanalkan diriku “ lee soora”.

“lee woo jun” sorak woo jun girang. “ya! woo jun-ah.bersikaplah sopan,” tegurku.

“mianhamnida noona,” kata woo jun.

Makan malam hari itu sangata ramai karena ulah woo jun, dan fuji terpengaruh olehnya. Entahlah, saat itu aku merasa melihat sisi lain dari seorang fujita arashi. Dia seperti anak-anak.

*

Aku menatap embun yang membasahi jendela malam itu, dan menuliskan beberapa kata disana. Aku melihat bayangan fuji dari jendela, ia berjalan ragu mendekatiku.

“S-S-Soora?”

Aku berbalik, kau lihat ada sedikit keraguan di sana – di wajahnya.

“ne~?”

“masakanmu kemarin enak, as usual of course” katanya ragu. Aku melihat matanya tampak gelisah, seperti ada yang ingin dia bicarakan denganku. Aku tersenyum melihatnya. Suasana hening, aku lihat dia seperti berusaha mengatakan sesuatu, lalu aku menunggunya

“S-S-Soora..”

Aku hanya melirik ke arahnya, tingkahnya menjadi sedikit aneh. Aku ingin tertawa, tetapi aku takut dia marah jadi aku menahan tawaku.

“aku s-s-suka masakanmu”

Aku tersenyum melihat tingkahnya yang sedikit aneh malam itu, “iya aku tahu,”jawabku.

Sejenak hening, aku ataupun fuji tak ada yg membuka suara. Hingga tiba-tiba dengan spontan aku bertanya padanya “ fuji suka gadis seperti apa?” entah apa yang di pikiranku saat itu.

Fujita sedikit terperanggah, tampaknya ia kaget dengan pertanyaanku, dengan agak ragu ia menjawab “k-k-kamu”

Aku terkejut, sedikit perasaan senang menghampiri hatiku. Namun tiba-tiba dia melanjutkan perkataannya “maksudku kamu suka yang seperti apa?”

Ada sedikit kecewa dalam hati ku, namun segera ku tepis. Sepertinya aku sedikit besar kepala dengan kta-kata yang belum di selesaikannya tadi.

“hey..aku yang bertanya lebih dulu bukan?” protesku, aku berusaha menyembunyikan kekecewaanku.

“E-e-eh...itu..gadis yang kuat dan jago bela diri,” kata fuji kemudian.

Aku terkesikap, seperti ada yang menusuk jantungku dan terasa sakit seketika. Aku hanya membulatkan bibir dan ber-O ria.

Sesaat setelah itu keadaan kembali hening, kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Tak berapa lama woo jun dan noona nya fuji datang menghampiri kami.

“”noona, eun jae hyung telah datang menjemput,” kata woo jun padaku.

“ne~..ayo pulang,” kataku sambil meraih tangannya.

“eonni, terima kasih atas perjamuan malam ini. Fuji, gomawo,” kataku kepada mereka berdua. Fuji hanya tersenyum, aku masih melihat kegelisahan di wajahnya.

Itsuka tersenyum ramha padaku, dia memelukku dan berbisik “sering-seringlah kemari, akurlah dengan fuji”

Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya, “kami permisi pulang, selamata malam” kataku sambil menggandeng woo jun keluar.

“Sampai jumpa hyung,noona! Jangn lupa main ke rumah ya!” sorak woo jun girang.

Aku hanya diam selama perjalanan pulang, segala cerita woo jun tentang itsuka dan pertanyaan-pertanyaan eun jae hanya aku tanggapi dengan kata iya dan tidak.

“sepertinya aku harus belajar beladiri” bisikku pelan. Eun jae melirikku, ia mendengarnya.



click the labels at the left side to see another labels of our story

AISHITERU - SARANGHAEYO [PART 4]

Posted by : Sisterhood di 07.50 0 Comments

FUJITA ARASHI

Sebuah mobil Ford hitam metalik berhenti di depan rumah megah yang didiami Fujita dan Miyamoto san. Seorang gadis berambut hitam panjang berjalan anggun memasuki rumah itu. Senyumannya mengembang saat mendengar alunan piano.
*
Aku memilih menghabiskan waktu bermain piano ketika libur sekolah tiba. Aku ingin menikmati setiap dentingan tuts hitam putih piano di dalam kesunyian. Saat seperti ini sungguh sangat ku rindukan.

“Tuan, maaf mengganggu” kata Miyamoto san seraya mencondongkan badannya ke arahku.

“Ya, ada apa?” kataku sambil terus bermain piano.

“Ada yang datang , Nona . . .”

“FUJIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII”

Aku tersentak kaget mendengar teriakan seseorang. Mataku secara otomatis membelalak lebar saat melihat seorang gadis berlari menghampiriku. Gadis itu memasang cengiran yang sangat lebar lalu memelukku dengan sangat erat.
Dalam dekapan gadis itu aku menatap wajah Miyamoto san seakan berkata “Apa dia yang kau maksud?”. Miyamoto san mengangguk pasrah.

“Lepaskan aku nee-chan” kataku seraya mendorong tubuh gadis itu.

“Heh, kamu sudah berubah adik kecilku” gadis itu mengucak rambutku dengan cepat.

Aku menghentakkan tangannya dengan dengusan kesal. Aku tidak suka dianggap seperti anak – anak mengingat umurku yang sudah mencapai 17 tahun. Onee chan tersenyum lebar dan duduk dihadapanku dengan khidmat. Dia memberikan isyarat padaku untuk bermain piano. Aku mengerti maksudnya, dia ingin mendengarkan aku bermain piano seperti saat kita berdua berada di istana. Hampir dua tahun aku tidak bertemu dengan Oneechan. Setelah Ayah dan Ibu memilih untuk berpisah, Onee-chan memutuskan untuk tinggal bersama Ibu dan hidup sebagai seorang putri. Sejak saat itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.

Onee chan mengangguk khidmat sambil mendengarkan alunan lagu kesukaannya, twinkle twinkle. Aku tersenyum menatap Onee chan terlihat bahagia mendengar lagu yang aku bawakan. Lagu kesukaan kami sewaktu kecil.

“Ah Fuji, kamu makin hebat saja” kata Onee chan seraya mengacak – ngacak rambutku.

Aku mengelung kesal menatap Onee chan.

“Kau, sudah besar rupanya. Tidak seperti anak kucing kecil istana kami”

“Tentu saja Onee chan”

“Sudah punya pacar ?” Onee chan menggodaku dengan tatapan matanya yang jahil.
Wajahku memanas, bisa kurasakan darahku mengalir cepat ke wajahku yang putih.

“Wajahmu memerah, siapa gadis beruntung itu?”

“T-t-t-tidak ada”

“Hah . . ya korea tidak punya gadis manis rupanya. Ck, kalau begitu aku akan memberitahukan ibu untuk menjodohkanmu saja”

“JANGAN !! TIDAK BOLEH !!” teriakku secara otomatis.

Onee chan memasang cengiran jahilnya sekali lagi. Aku sudah terperangkap oleh perkataannya. Harusnya aku lebih santai menanggapi ocehannya tadi.

“Siapa gadis itu?” Onee chan menaikkan ke dua alisnya, hal itu terlihat sangat menyebalkan bagiku.

“Salah satu anak gadis dikelasku”

“Ohhh, aku disini hanya sebentar. Jangan lupa ajak dia main – main kesini, kalau bisa besok”

Aku mengangguk pasrah menanggapi perkataan Onee chan. Aku tidak ingin terlibat masalah dengannya karena hidupku pasti tidak akan nyaman. Sekarang yang aku pusingkan adalah bagaimana caranya mengajak Lee Sora datang ke rumahku ini?

“Argghhh Onee chan !!!”



LEE SOORA




Wanita itu berjalan terburu-buru menuju ruang kerjanya, hanbok modern yang dikenakannya tersibak mengikuti gerak langkahnya. Namun tiba-tiba ia memperlambat langkahnya.  Raut wajahnya berubah, dia mendengar suara seseorang bersenandung. Wanita itu mengikuti arah datangnya suara senandung tersebut.  Langkahnya terhenti di salah satu koridor, ia semakin memperlambat langkahnya. Dengan sedikit ragu, dia mengintip ke salah satu ruangan. Wanita itu tersenyum, melihat anak gadisnya sedang memasak dengan ceria. Wanita tersebut berbalik, “anakku telah beranjak dewasa,” batinnya.

*

Aroma sedap memenuhi ruangan, terlihat masakan di dalam panci meletup-letup pertanda matang. Aku bergegas mengambil dua mangkuk kecil dan sendok kecil, dan mengambil sedikit kimchi dan shabu-shabu yang baru saja matang.

“ajumma, ap anda melihat oppa?,” tanyaku pada bibi chang yg sedang menemaniku di dapur. Bibi chang yang melihatku sedikit kesulitan membawa dua buah mangkuk, kemudian mengambil satu mangkuk dari tanganku.

“tuan muda sedang belajar di kamarnya, nona,” jawab bibi chang kemudian.

“ah,,gamsahamnida. Ajumma,  Bisa kah membantuku membawa mangkuk-mangkuk ini?,” penntaku kemudian sambil melirik satu mangkuk ditanganku dan satunya lagi ditangnnya. Bibi chang terkekeh melihat wajahku yang terlihat lelah.

“baiklah, tetapi setelah ini nona soora harus segera mandi. Sebentar lagi tuan pulang dan tuan muda arashi akan tiba satu jam lagi,” kata bibi chang mengingatkanku.

“ah..gamsahamnida. aku hampir lupa,” kataku sambil sedikit menepuk pipiku.

Aku bergegas menuju kamar kakak lelaki ku di lantai dua, terdengar begitu berisik dari bawah sini. Tepat saat aku membuka pintu, sebuah bantal melayang dan mengenai tembok di sampingku. Aku melihat adik lelakiku berada di sana.

Dengan kesal aku menghampiri mereka berdua, “kenapa kalian begitu menyebalkan? Bagaimana jika mengenai mangkuk ini?,”kataku sambil meletakkan mangkuk itu di meja.

“noona, apa itu makanan untukku?,” tanya Lee woo jun, adik lelakiku. Belum sempat aku menjawab, dengan sigap dia menyambar salah satu mangkuk dan melahapnya habis.

“noona, mengapa kau masak enak hari ini?,” kata woo jun sambil berusaha menelan makanan yang begitu penuh didalam mulutnya.

“ya! telan dulu makananmu itu. Menjijikkan!,” tegur kakakku dengan cueknya.
“mianhe hyung,” kata adikku patuh.
“Cih, anak ini mengapa begitu patuh pada oppa?” batinku. “ah  sudahlah, mengapa kalian tidak segera mandi? Kita akan makan malam bukan?” lanjutku kemudian.

“noona, apakah hyung hyung fuji sudah tiba? Tanya woojun kemudian. “Ya! mengapa kau begitu tidak sopan? Sejak kapan kau memanggil nama kecilnya?” protesku sambil menjewer telinga adikku.

“noona, mengapa kau kejam pada adikmu sendiri?” kata woo jun padaku. “kau juga memanggilnya dengan nama kecil bukan? Apa hubungan kalian? ,” katanya kemudian.

“bukan urusanmu anak kecil,” kata ku sembari berjalan keluar kamar. Aku lihat oppa melirikku dan hanya menggeleng melihat kami berdebat. Aku bergegas keluar, dan berdiri sesaat di depan pintu. Aku menggenggam kedua tanganku dan meletakkannya di depan dadaku. Sangat terasa ketika jantungku berdegup cepat saat mendengar pertanyaan woojun. Anak itu selalu tau jalan pikiranku.

*

No other milik super junior masih mengalun di ipodku saat aku melirik arlojiku, jam 7 tepat. Aku merapikan riasan tipis pada wajahku, memperhatikan penampilanku sejenak kemudian bergegas menuju ruang keluarga.

Aku lihat kedua orang tua serta kakakku telah berada disana, sedangkan woo jun belum terlihat batang hidungnya. Aku mengambil tempat duduk disamping ayah, beliau baru saja pulang dari mengurus bisnisnya. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Wajahnya terlihat menjadi lebih tua, namun masih tampan, sangat mirip oppa.

“ah.. gadis kecilku sudah besar kau rupanya, kau sangat cantik seperti ibumu,” kata ayah saat melihatku datang. Aku hanya tersipu mendengar kata –kata ayah, sedangkan kakakku sedikit mencibir mengejekku.

“itu karena kau tak pernah pulang, makanya kau tak tau putri kecilmu sudah sebesar ini,” kata ibu pada ayah.

Kami berbincang cukup panjang saat itu, hingga woo jun datang dan dengan spontan memeluk ayah. Tak lama kemudian, penjaga rumah kai datang dan mengatakan bahwa arashi tiba.

Aku berlari kecil keluar dan menyambutnya. Dia mengenakan kemeja yang aku berikan dipadukan dengan jas hitam yang dia beli bersama ku dua minggu yang lalu. “tampan” batinku.

“ada apa?” kata fujita membuyarkan lamunanku. “mengapa kau menatapku seperti itu,soora? Apa ada yang salah?” tanya fujita padaku. Aku yakin dia melihatku saat wajahku berubah seperti kepiting rebus. “memalukan” batinku.

“aniyo, tidak ada apa-apa. Ayo masuk, ayah dan ibu menunggumu,” elakku. Fujita tersenyum dan mengikuti langkahku perlahan.

Ayah langsung menyapa fujita ketika ia tau aku masuk keruang makan bersama fujita, suasana menjadi cair saat ia datang. Aku melihat mereka semua tertawa, sangat menyenangkan.

*

Kami membicarakan banyak hal saat makan. Fujita bercerita tentang keluarganya pada ayah. Aku menceritakan sekolah. Ayah sangat antusias mendengarkan cerita kami semua. karena dia lama tidak berada di rumah, dia merindukan suasana rumah yang seperti ini begitulah katanya.

Sesaat setelah berbincang panjang lebar, fujita pamit kepada kedua orang tuaku. Aku dan kedua saudaraku mengantarnya hingga mobilnya.

“ hyung, terima kasih untuk malam ini,” kata fujita kepada kakakku. Kakakku hanya mengangguk, aku hanya menggelelng melihatnya. “terlalu pelit, bahkan untuk sedikit berbicara,” batinku.

“woo jun, kau hebat malam ini,” puji fujita pada adikku, sehabis makan tadi fujita sempat menemani woo jun bermain xbox. Itulah yg mereka berdua lakukan setiap kali fujita berkunjung.

“kau yang mengajari ku hyung,” kata woo jun sambil memasang cengiran yg begitu lebarnya.
Tiba-tiba kakakku menarik tangan woo jun dan membawanya meninggalkan kami berdua. “aku dan woo jun akan melanjutkan permainan kami,” teriak oppa dari kejauhan. Fujita hanya tersenyum.

“soora, terima kasih untuk makanannya. So delicious,” kata fujita memujiku. Aku hanya bisa tersenyum malu medengar pujiannya. “ ah, siapa yg mengajarimu memasak shabu? Aku menyukainya,” kata fujita kemudian.

“aah.. itu..bibi chang yang mengajari ku,” jawabku kemudian. Fujita mengangguk-angguk.
Suasana tiba-tiba hening, cukup lama. Sekitar 10 menit, hingga akhirnya fujita membuka suara.

“ah...soora, apakah besok malam kau sibuk? Tanya fujita padaku. Aku mengerutkan dahiku, “aniyo, aku tidak sibuk. Ada apa? Tanyaku padanya. fujita terdiam sesaat, sepertinya dia agak bingung untuk mengeluarkan kata-kata.

“ kakakku mengundangmu ke rumah kami,” katanya kemudian. “kakakmu?” tanyaku.
“ah..maaf aku lupa menceritakannya padamu, kakak perempuanku. Dia baru tiba kemarin dari jepang,” jelasnya kemudian. “apa kau bisa datang?” tanyanya, dia terlihat sangat menunggu jawaban dariku.

“ah..baiklah, akan aku tanyakan pada ibu. Aku rasa tidak jadi masalah,” jawabku kemudian.
Fujita tersenyum senang mendengar jawabanku.
“Aku pulang,” katanya sembari masuk kedalam mobil. Aku menunggu hingga mobilnya menghilang di tikungan depan rumahku.

“bertemu kakak perempuannya? Apa yang harus aku katakan padanya nanti?” gumamku dalam perjalanan kembali ke rumah induk.





click the labels at the left side to see another labels of our story