AISHITERU - SARANGHAEYO [PART 3]

Posted by : Sisterhood di 23.50 0 Comments
AISHITERU – SARANGHAEYO

PART 3


FUJITA ARASHI

Setahun lebih Sora mengajariku segala hal mengenai Korea, mulai dari bahasa, budaya, tempat wisata, bahkan makanan khas Korea. Aku ingat dulu aku sempat terkecoh saat melihat Sora mengenakan pakaian yang mirip dengan kimono namun lebih mengembang dan cenderung tidak terlalu bermotif.

Hari itu adalah hari dimana sepupu Sora, Lee Sung Min menikah. Sora mengatakan padaku bahwa baju yang dikenakannya itu bernama Hanbok. Jika kimono harus memakai obi maka hanbok tidak perlu memakainya, dan hanya memiliki sebuah pita yang melintang ke arah rok atau chima. Pita itu dinamai otgoreum. Aku senang melihat Sora mengenakan baju itu, wajahnya tampak terus merona merah. Aku seperti merasakan sebuah debaran aneh saat itu.

Hampir satu tingkatan aku lewati bersama Sora. Semuanya tampak biasa dan lancar – lancar saja, namun sesuatu mulai bergelayut dihatiku saat melihat Sora mengenakan hanbok saat itu. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, karena hal itulah aku jadi semakin semangat mempelajari segala sesuatu tentang Korea dan tentang Sora.

“Tuan, apa Tuan tertarik dengan sastra Korea?” tanya Miyamoto san saat melihatku sibuk membolak balik beberapa buku diperpustakaan Ayah.

“Tidak juga” jawabku sekenanya.

Entah apa yang terjadi, Miyamoto san pun menghilang begitu saja. Aku merasa mendapatkan kembali privasiku. Aku membuka beberapa buku dan mendapati berbagai macam jenis makanan yang disukai orang Korea, salah satunya adalah sebuah makanan yang terbuat dari pasta kacang kedelai yang berbentuk persegi yang dinamakan doenjang. Bau doenjang memang aneh, Sora sempat mengajakku untuk melihat proses pembuatan doenjang. Aku sempat sangsi saat Sora mengajakku menikmati doenjang yang dibuatnya, bau khas yang doenjang yang sempat menyengat hidungku membuat otakku dengan secara otomatis mengatakan bahwa doenjang tidak layak untuk dicicipi. Namun, melihat bujukan Sora dengan wajah berkaca – kaca membuatku luluh dan mulai mencoba mencicipinya. Aku mencoba mencicipi doenjang  yang telah dimasak menjadi Deonjangjjigae atau sup doenjang yang mengebulkan asap dihadapanku.

Rasa segar menyengat lidahku. Tanpa kusadari, suapan demi suapan Deonjangjjigae masuk ke dalam mulutku. Sora terlihat bersemangat saat mengetahui bahwa Deonjangjjigae yang disediakannya untukku habis tanpa sisa.

“Wah , habis juga ya”

“Ya begitulah, ternyata Sora ssi pintar masak ya” kataku sambil menyuapkan sisa – sisa Deonjangjjigae ke dalam mulut.

Gamsahamnida, aku senang akhirnya kamu mau menikmatinya. Soalnya waktu kunjungan terakhir kita ke tempat pembuatan doenjang, kamu sama sekali tidak mau mencicipi deonjang
Aku tersenyum kecut mendengar hal itu. Jelas saja aku tidak menikmati apapun, karena bau deonjang  yang membuat indera pengecapku berhenti. Aku jadi teringat natto, salah satu makanan khas Jepang. Aku mulai menyukai doenjang  dan Sora.


*

Belakangan ini aku terus menatap wajahnya. Hatiku selalu berdegup kencang saat melihatnya tersenyum dan berbicara padaku. Ada rasa menggelitik hebat. Aku ingin sekali berada didekatnya namun sisi lain diriku mencoba menahan ini semua. Aku takut Sora tidak menyukaiku dan aku akan menemukan kepahitan. Untuk sementara ini aku ingin menikmati rasa bergelayut didadaku. Tertawa – tawa mengingat semua kekonyolanku serta wajah lembut Sora.

Lee Sora, aku kagum padanya yang pandai memasak, cantik, sangat mahir berbahasa Inggris, dan baik kepada semua orang. Walaupun fisiknya lemah, dia tidak pernah ingin dikasihani. Aku sangat kagum melihatnya sewaktu pelajara olahraga tiba. Setiap murid dikelas mengatakan padanya untuk beristirahat saja, tapi dia tetap bersikeras ingin ikut serta dalam pelajaran bola tangan hari itu. Sepanjang pelajaran olahraga, dia terus tersenyum dan tidak menampakkan wajah lelah bahkan sakit.

“Sora ssi, kamu yakin tidak apa – apa?” tanyaku

“Ne~, aku tidak apa – apa kok”

Aku menatap wajahnya yang bersemu merah. Mulutku mencoba mengutarakan semua gejolak yang selama ini ku pendam. Aku harus bisa dan berani karena inilah saatnya.

“Sora ssi, aku mau bilang sama kamu . . k-k-k-kalau . .”

BUUUUUKKKKKKKKKKK. . . .

Tepat saat itu sebuah bola tangan terlempar ke kepalaku. Aku merasakan pusing yang hebat sehingga keseimbanganku pun goyah dan akhirnya aku terjatuh.

“Fujita?”

“A-a-aku baik – baik saja, a-a-aku mau ke kelas dulu”

Aku pun berlari meninggalkan Sora sebelum sempat menyempurnakan kalimatku tadi.

*

Hari ini Sora memberikanku kue jahe buatannya. Bentuknya lucu dan penuh dengan warna – warna cantik persis seperti bentuk kue jahe di dalam dongeng. Aku menyukai semua masakan yang dibuatnya sama seperti aku menyukainya.

“Tuan Arashi, apa kuenya tidak mau dimakan? Kenapa Tuan memandangnya terus?” tanya Miyamoto san saat aku terpekur di depan piano.

“Ehm , tidak apa – apa Miyamoto san”

Aku memasukkan sebuah kue jahe secara utuh ke dalam mulutku dan mulai menikmati sensasi manis dan menyenangkan. Aku tersenyum dan mulai mengalunkan not Nocturne sambil membayangkan wajah Sora.
Wajahnya yang lembut dan manis, sangat menenangkan jiwa. Aku membayangkan diriku berdiri disampingnya sambil menggenggam tangannya. Tubuhku yang lebih tinggi beberapa senti darinya terlihat sempurna. Perpaduan warna rambut kami pun terlihat cocok. Mataku yang sedikit sipit serta matanya yang teduh khas orang Korea membuat semuanya semakin sempurna.
Aku terus tersenyum membayangkan hal itu.

“Aku jatuh cinta”

***
Angin musim panas yang kering melayangkan alunan Nocturne serta rambut Fujita yang hitam kelam. Ada warna merah muda merona diantara dentingan piano. Fujita terus mengalunkan Nocturne dengan santai dan bergelora.






*****

Lee Soora



Hari ini hari pernikahan sepupuku, Lee Sung Min.  Aku akan datang bersama Fujita, Ibu yang mengusulkannya padaku. Kata Ibu, itu baik untuknya agar dia lebih mengenal kebudayaan Korea.


Aku memperhatikan bayanganku didalam cermin. Hanbok bernuansa pink dan kuning sangat indah membalut tubuhku, setidaknya begitu yang dikatakan ibu.  Aku sedikit memutar tubuhku, sehingga hanbok ku sedikit mengembang dan ikut berputar. Aku tertawa kecil melihat wajahku di cermin, cukup menggemaskan sepertinya.

Tiba-tiba pintu kamarku diketuk,
“Soora ssi, tuan Arashi datang menjemput anda,” kata seorang pelayan sambil sedikit membungkukkan badannya.

“ ah gomawo. Jie eun ssi, kau tak usah membungkuk tiap kali bertemu denganku. Kita tumbuh bersama bukan, aku merasa tidak enak,” kataku sembari tersenyum padanya kemudian segera turun menemui fujita.

*


“hei, kau datang juga rupanya,” sapaku sambil menuruni tangga perlahan-lahan.

Fujita mendongak menatapku, aku lihat dia terdiam cukup lama. “ apa yang kau lihat hah?,” kataku kemudian, rupanya cukup membuatnya terkejut. “ah..bukan apa-apa. Apa benar itu dirimu Soora ssi?” katanya kemudian. “apa terlihat aneh?”  tanya ku sambil memperhatikan hanbokku, mungkin ada yang aneh sehingga fujita memperhatikanku seperti itu.

Fujita menggeleng perlahan, “tidak ada yang aneh,” katanya kemudian. Aku tersenyum lega mendengarnya. “apakah itu kimono?” tanyanya padaku.

Wajah polosnya saat bertanya padaku itu membuatku ingin tertawa, namun kuurungkan niat burukku itu. Aku sedikit tersenyum, kemudian mulai menjelaskan padanya. “ini baju tradisonal korea, namanya hanbok. Memang mirip dengan kimono,hanya saja ini lebih simpel dan sedikit mengembang,”. Fujita mengangguk-angguk, aku rasa dia cukup paham dengan penjelasanku.

“mau sampai kapan kau melamun memperhatikanku seperti itu? Apakah aku terlihat cantik,” godaku, “ aniyo, aku tidak memperhatikanmu,” katanya mengelak.  wajahnya yang memerah membuatku ingin tertawa terbahak-bahak.

*

Fujita cukup menikmati pesta hari itu. Menurutnya suasana tradisonal korea membuatnya betah berlama-lama disana. Aku lihat dia juga cukup banyak berbincang dengan kakakkku, entah bagaimana caranya  dia bisa dekat dengannya. sepertinya apa yang telah ku ajarkan setahun belakangan benar-benar diterapkannya.

*

Semakin hari aku dan fujita semakin bertambah dekat, intensitas kebersamaan kami pun semakin sering terjadi. Seringnya kami menghabiskan waktu bersama membua kakakku penasaran mengenai hubungan kami.
 
Aku sedang mengurutkan foto-foto kami saat mengunjungi pabrik doenjang beberapa hari yang lalu, ketika ada suara ketukan pintu di kamarku. Aku sedikit merapikan pekerjaan ku dan bergegas membuka pintu. Aku lihat kakakku yang berdiri di depan pintu dengan wajah mengantuknya. Dahiku sedikit berkerut melihat tampangnya yang terlihat aneh itu.

“boleh aku masuk?,” katanya kemudian. Aku hanya mengangguk, mataku masih tak lepas darinya,  terlihat aneh saat dia berjalan sambil menyeret-nyeret kakinya.

Aku melanjutkan pekerjaanku ketika aku lihat kakakku dengan santainya membaringkan tubuhnya  di tempat tidurku, sepertinya dia hanya ingin numpang tidur. Tetapi tiba-tiba dia mengejutkanku saat mengambil selembar foto dari tanganku.

“aaah..apa yang kau lakukan oppa. Kau membuatku terkejut,” jeritku sambil melempar boneka yang sejak tadi dipangkuanku padanya. dia menangkapnya, tepat tanpa cela.

“ya! Sebenarnya apa hubunganmu dengan fujita?” tanyanya kemudian sambil melemparkann boneka itu ke langit-langit.

Aku membalikkan kursiku, kini posisiku berhadapn dengannya. “hubungan apa maksudmu?” tanyaku, tanganku memutar-mutarkan gunting yang sejak tadi kupegang.

Kakakku sedikit menghindar dariku, “Ya! hati-hati dengan guntingmu, itu bisa melukai wajahku,” katanya sambil berusaha melemparkan bantal kearahku. “ah, ternyata kau bisa mengkhawatirkan wajahmu?,” ledekku. Dia menatapku kesal, wajahnya kembali seperti semula, wajah menyebalkan.

“bisakah kau menjawab pertanyaanku?”katanya kemudian. Aku menghela nafas, “apa maunya anak ini sebenarnya,” batinku kesal.

Aku beranjak dari kursiku dan mendekatinya, “hey oppa, kau kesini hanya untuk menanyakan itu?” kataku sambil merangkulnya. Kakakku memalingkan wajahnya kearahku, “kau pikir, kau akan susah payah datang kesini untuk hal yang tidak penting?” tanyanya padaku. “apa kau pikir ini penting oppa?” tanyaku kembali padanya.

“ bagaimana tidak, jika setiap kali akan pergi kesekolah ataupun pulang dari sekolah wajahmu seperti kepiting rebus. Kupikir pasti ada apa-apanya. Apa kau menyukainya?” tanya kakakku, entah kenapa rasanya dia begitu antusias membicarakan hal ini denganku.

Aku berdiri menjauh, menghampiri jendela kamarku. Membuka sedikit tirai dan jendela, membiarkan udara malam sedikit masuk ke kamarku. Mendinginkan udara yang mulai terasa panas.

“mau jawab pertanyaanku jam berapa? Aku sudah sangat lelah,” kata kakakku mengagetkanku.

Aku menggeleng, “ entahlah oppa, setahun ini kau cukup dekat dengannya. Dia pria yang baik, sopan,dan penuh perhatian. Terkadang dadaku berdegup kencang saat mata kami bertatapan,” kataku panjang lebar. Aku duduk kembali di sampingnya, “hey oppa, apaka itu berarti kau suka padanya?” tanyaku kemudian. Tapi ternyata pria bodoh yang sedari tadi mengaggu pekerjaanku ini malah tidur dengan santainya. Dan aku terpaksa tidur di kamarnya malam ini.

“sepertinya aku memang meyukai fujita,oppa,” kataku sambil memperhatikan foto fujita yang tengah mempraktekkan membuat doenjang beberapa hari yang lalu.






click the labels at the left side to see another labels of our story

AISHITERU - SARANGHAEYO [PART 2]

Posted by : Sisterhood di 05.52 0 Comments
AISHITERU – SARANGHAEYO

PART 2

Fujita Arashi

Matahari bersinar terik dan menyapa seluruh belahan Seoul. Mobil ford silver berkilat tampak membawa Fujita pergi.
*
Aku merengut menahan peluh yang terus membasahi tubuhku. Aku melirik sekilas ke arah Tuan Miyamoto. Pria itu tampak sangat tenang menatap jalan lurus yang membentang dihadapannya. Terlihat sangat jelas bahwa Tuan Miyamoto telah terbiasa dengan keadaan seperti ini.

“Sudah sampai Tuan”

Aku menapakkan kakiku ke jalan berbatu yang rapi dan kokoh. Bangunan kokoh membentang dihadapanku. Beratus jendela tampak mencuat keluar dan memantulkan cahaya matahari.

Deng . . . Deng . . . Deng . . .

Lonceng kuning besar bergoyang pelan disudut utara bangunan kokoh itu. Aku menghentikan langkahku dan menatap lonceng itu sekilas.

“Sama persis dengan lonceng di Togano” batinku.

*

Seorang pria gemuk duduk dihadapanku. Dia berbicara panjang lebar mengenai sesuatu. Aku terdiam cukup lama karena mencoba mencerna apa yang dikatakan pria itu. Suara yang dia keluarkan terdengar aneh ditelingaku.

Gomennasai”  (maaf) aku memberanikan diriku untuk berbicara.

“Dia tidak mengerti apa yang Anda katakan” Tuan Miyamoto mulai membuka suaranya.

Pria gemuk dihadapanku tertawa keras, tubuhnya yang putih dan bulat terlihat berguncang. Tempat duduknya yang bisa bergoyang kesana kemari terdengar berdecit pasrah.

Pria itu lalu menjelaskan padaku tentang peraturan dan berbagai macam ketentuan yang digunakan di sekolah ini dengan menggunakan bahasa Inggris yang terbata – bata.

“Protokoler lagi”batinku.

Seorang wanita muda yang ku ketahui bernama Kim Yung Ah mengantarkanku ke kelas 1b. Wanita tersenyum saat Park Shin Hyung – kepala sekolahku – mengatakan bahwa aku adalah murid pindahan yang dia ceritakan.

“Ini kelasmu dan aku akan menjadi wali kelas barumu”

Aku tersenyum diam menatap wanita muda itu. Beberapa menit kemudian kami telah berdiri dihadapan 20 puluh murid. Nona Kim mengetuk meja dengan penghapus hitam dan mulai berbicara dengan suara yang terdengar seperti kuluman bagiku. Tatapan semua murid kiki terarah padaku.

“Perkenalkan dirimu” kata Nona Kim dalam bahasa Inggris yang kaku.

Ohaiyou minna, Watashi ehm I’m Fujita Arashi” kataku dengan sedikit gugup.

Seharusnya aku mempelajari sedikit bahasa Korea sebelum mengikuti kepindahan Ayah. Aku merutuki diriku sendiri saat berjalan ke arah kursi yang ditunjuk oleh Nona Kim. Kini gantian Nona Kim yang tampak kesusahan berbicara dihadapan kami semua atau lebih tepatnya aku, seorang anak lelaki dari Jepang.

“Hey, aku bisa mengajarimu” suara lembut seorang gadis menyapaku.

Aku tersenyum dan mencoba membaca papan nama yang bergelayut di seragamnya. Tampak tulisan meliuk – liuk.

“Namaku Lee Sora” gadis itu mengulurkan tangannya. Aku mengagguk dan memperkenalkan diriku.

“Sora, sepertinya kamu yang akan bertanggungjawab menjadi penerjemah disini. Mengingat bahasa Inggrismu cukup fasih” kata Nona Kim seketika.

Aku kembali mengerutkan dahiku karena tidak mengerti apa yang mereka katakan. Lee Sora kembali tersenyum dan mengatakan kembali apa yang dikatakan Nona Kim. Dan disinilah awal kedekatanku dengannya.


***


Lee Soora



“ Soora-ssi, anda telah ditunggu oleh tuan muda Eun jae di mobilnya,” kata salah satu pelayan padaku. Aku mengangguk “gomawo,” kataku kemudian. “ ibu, aku pergi,” kataku sambil mencium kedua pipi wanita yang paling kuhormati itu. “hati-hati, katakan pada oppa untuk pulang lebih awal,” jawab ibu sambil mengusap lembut rambutku. “Ne,” jawabku kemudian.

*

“kenapa kau lamban sekali,” kata oppa, tanpa ekspresi. “mianhamnida oppa,” kataku pelan.

Wajahnya yang tanpa ekspresi membuatku sedikit sebal hari itu. Orang ini kenapa menjadi begitu dingin? Padahal saat kami kecil dia sangat nakal. “Dia menyebalkan”  rutukku dalam hati. Sikapnya benar-benar membuat mood ku menjadi buruk. Aku  memasang earphone di kedua telingaku, mencoba menghilangkan rasa kesalku padanya. Aku memperhatikan ekspresinya sekali lagi, sama sekali tak berubah.

“apa dia tak punya ekspresi yang lain?” batinku kesal.

*

Aku menyusuri jalan setapak berbatu menuju kelasku, udara di  halaman yang begitu sejuk membuatku enggan untuk buru- buru ke kelas. Earphone masih terpasang dikedua telingaku, suara merdu G.na pun  mengalun  di iPod pink milikku.
Kelas begitu berisik ketika aku datang. Setelah meletakkan tasku di loker, aku menghampiri sahabatku,song hyun ah.

“ya! Apa yang sedang mereka ributkan?” tanyaku sambil mengambil menepuk punggungnya. Hyun Ah berbalik dengan wajah heran, “sebenarnya kau ini hidup dimana? Apa kau tidak mendengar gosipnya,hah?!,” katanya sedikit kesal. Aku terkekeh, “mian, mungkin aku sedikit sibuk,” jawabku sambil  mengatupkan kedua tanganku sembari menunjukkan wajah memelas.

Hyun Ah mengibaskan tangannya sambil menggeleng, “sudahlah, kau bukan hanya sedikit sibuk. Tetapi sangat sibuk. Kau bahkan sudah jarang pergi bersamaku,” katanya kemudian. Aku merangkulnya sambil tersenyum, “maafkan aku song hyun ah, kau adalah teman ku yang paling baik,” kataku kemudian, berharap rayuanku manjur padanya.

Air muka Hyun Ah sedikit berubah, “yes,!”batinku. aku terkekeh melihat ekspresinya saat itu, sangat menggemaskan. Apalagi melihat pipinya yang begitu chubby, seperti hamburger.

Hyun Ah menarik nafas,dan segera menghembuskannya. Wajahnya memerah seperti tomat, aku menahan tawa melihatnya.

“ kau tau, ada murid baru di sekolah kita ini. Kata Mrs.Kim dia dari jepang,” kata Hyun Ah dengan mata berbinar-binar. “ooh, ternyata hanya murid pindahan. Aku kira ada sesuatu yang penting,” kataku sambil melihat-lihat keluar jendela.

Hyun Ah menepuk pundakku dan itu tidak pelan. aku meringis sambil mengelu-elus pundakku, “apa kau tak bisa lebih lembut padaku?” tanyaku padanya. Hyun Ah sepertinya tidak begitu peduli dengan kata-kataku, dia melanjutkan bagiannya lagi, “kabarnya,dia seorang pangeran,” kata hyun Ah berapi-api. “pangeran?”  tanyaku kemudian. Hyun Ah mengangguk, “hmmmm,pangeran ya,” kataku.

***

Suasana kelas masih begitu berisik saat Mrs. Kim masuk, sehingga ia harus beberapa kali mengetuk meja untuk menenangkan kami.

Mrs.Kim menoleh ke arah pintu, seseorang melangkah masuk dan seketika itu juga kelas menjadi hening. Hyun Ah berbisik padaku, “itu dia, aku rasa”.

“perkenalkan dirimu,” kata Mrs.Kim pada orang itu dengan bahasa inggris yang sedikit kaku. Aku rasa Hyun Ah benar, orang ini berasal dari luar Korea. Wajah murid baru itu terlihat sedikit tegang, dengan sedikit gugup dia memperkenalkan dirinya.

“ohaiyo minna, watashi ehm I’m Fujita Arashi,”. Hening.

Mrs. Kim menunjukkan kursi untuknya, dan dia akan duduk bersebelahan denganku. Dia berjalan dengan mulut komat-kamit, aku tersenyum melihat tingkahnya.

“hey, aku bisa mengajari mu,” kataku padanya, dia menatapku heran kemudian tersenyum. Aku mengulurkan tanganku padanya, ,”namaku Lee Soora,” kataku kemudian. Dia mengangguk dan memperkenalkan dirinya padaku , “Fujita Arashi,” katanya.

Mrs. Kim sepertinya melihat adegan itu, ia kemudian memintaku menjadi penerjemah untuk Arashi. Menurutnya bahasa inggrisku cukup fasih. Fujita mengerutkan dahinya saat melihta Mrs. Kim berbicara padaku, aku paham maksudnya.

“kata Mrs. Kim, aku akan menjadi penerjemah untukmu,” kataku padanya dalam bahasa inggris. Dia hanya mengangguk-angguk, sepertinya dia paham.

***

Hyun Ah menyikut siku ku, cukup keras kali ini. Aku meringis menahan sakit, “dasar kau ini, apa tidak bisa lebih keras lagi?” kataku menyindirnya. “maaf,” katanya sambil mengatupkan kedua tangannya. Dia menggeserkan kursinya mendekatiku, sehingga menimbulkan bunyi derit yang cukup keras. Mrs. Kim menoleh pada kami, “apa yang terjadi?” tanya Mrs. Kim pada kami. “mianhamnida, Mrs. Kim. Tidak ada apa-apa,”kata Hyun Ah.

“baiklah, kalian berdua jangan berisik,” kata Mrs. Kim sambil kembali melanjutkan menulis di papan tulis. Aku menoleh pada Hyun Ah dan mempelototinya, dia hanya terkekeh.

“apa yang kalian bicarakan?,” Hyun Ah berbisik padaku. Aku hanya tersenyum-senyum, “hey, kau merahasiakannya dariku ya?” kata hyun Ah padaku.

“kami hanya berkenalan,Song Hyun Ah,” kataku kemudian padanya.

“aku rasa,mungkin kami akan mulai dekat sejak hari ini...” batinku.




click the labels at the left side to see another labels of our story

AISHITERU - SARANGHAEYO [PART 1]

Posted by : Sisterhood di 03.51 0 Comments
AISHITERU – SARANGHAEYO

[PART 1]

Fujita Arashi

Hari ini aku kembali ke Seoul, kota yang telah memberikanku kenangan indah. Aku sangat berharap bisa melihatnya dan diberikan kesempatan untuk mengatakan hal yang selama lima tahun ini ku pendam.

“Tuan Arashi”

Seorang pria berkepala bulat melambaikan ke dua tangannya. Aku mengenal pria itu, seorang pria berbadan langsing dengan wajah sebulat telur, sebuah perpaduan fisik yang aneh. Dia adalah induk semangku semasa sekolah dulu.

“Ossashiburi da ne Miyamoto san” sapaku dengan bahasa Jepang yang kaku.

Miyamoto san tersenyum lalu membantuku mengangkat koper. Dia adalah orang kepercayaan Ayah. Sejak Ayah dan Ibu bercerai, aku memilih mengikuti jejak Ayah yang menghilang ke Korea Selatan. Ayahku adalah seorang wirausahawan yang cukup terkenal dan selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja. Sementara Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki keluarga luar biasa. Ibuku adalah anak dari Kaisar Jepang sehingga tanpa merasakan lelahnya bekerja pun, Ibu bisa menghidupi hidupnya sendiri.

Aku tidak suka semua protokoler istana, aku suka kesendirian dan keheningan. Oleh karena itu, aku mengikuti jejak Ayah ke Korea Selatan. Mungkin aku adalah satu dari sekian banyak anak yang paling senang ditinggal sendirian di rumah. Aku tidak pernah mengeluhkan kesibukan Ayah karena aku sangat menikmati kesendirianku di rumah.

“Tuan Arashi, kita sudah sampai”

Aku menengok sekilah ke arah rumah dan pintu kayu dihadapanku.

“Aku kembali” desisku.

Bunga – bunga musim semi tampak tersenyum indah menyapa Fujita. Fujita melangkahkan kakinya dengan mantap ke ruang tengah. Rumah itu masih saja sunyi seperti biasanya. Fujita tersenyum karena hal ini yang kini dia butuhkan.

“Miyamoto san, simpan disini saja koper saya. Arigatou ne  (terimakasih) “

Miyamoto san tersenyum lalu meninggalkanku sendiri di dalam rumah. Aku menarik koperku dengan semangat menaiki tangga. Ku dapati pintu kamarku yang tampak masih kokoh. Aku menarik koperku semakin cepat, aku sangat ingin merebahkan diriku di kamar itu setelah lima tahun harus berkelana ke Jepang untuk menemui Ibu.

“cheoeum mannan sarangmani cheossarangeun anijiman cheossarangeun gajang orae gieoge namneun sarangida
(Cinta pertama itu bukanlah cinta saat jumpa pertama tetapi cinta pertama adalah cinta yang paling banyak meninggalkan kenangan cinta)

Aku tertegun melihat tulisan yang terpampang di meja belajarku. Pikiranku kembali melayang ke masa SMA, masa dimana aku mengenalnya dan menemukan betapa hebatnya kekuatan cinta.




Lee Soora



Perlahan aku memasuki halaman rumah tua itu, tak banyak yang berubah. Hanya saja terdapat banyak semak belukar yang memenuhi pagar dan halaman. pintunya masih berdiri kokoh, nyaris tak ada kerusakan.  Hanya sedikit berdebu dan ditumbuhi lumut.


Aku berdiri sejenak di depan pintu, memandang sekeliling. Benar, tak ada yang berubah. Betapa aku merindukan rumah yang kutinggalkan sejak lima tahun yang lalu ini.

Bunyi derit pintu  terdengar nyaring saat aku mencoba membukanya. aku melangkah perlahan dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.

“ Lee Soora ssi”

Seorang wanita paruh baya bertubuh gemuk membuyarkan lamunanku. Rupanya bibi penjaga rumah yang datang bersama suaminya. Bibi itu bernama kim minna, beliau telah bekerja dikeluargaku sejak aku masih balita.

Ayahku seorang CEO di sebuah perusahan yang dia dirikan bersama ibu, ibu ku telah tiada tiga tahun yang lalu karena sakitnya.sedangkan kakak lelaki ku masih dalam tugas di militer. Lima tahun yang lalu aku melanjutkan studiku di belanda, dan terakhir kembali saat ibuku tiada. Kini aku memutuskan untuk menetap di sini, dirumah milik ayah ibu.

“ah bibi, anneyonghaseo,” kataku sembari sedikit membungkukkkan badan untuk memberi hormat. Bibi itu tersenyum, kemudian membalas membungkukkan badan padaku.
“anneyonghaseo soora ssi. Apakah anda lama menunggu?” tanyanya padaku. Aku menggeleng perlahan, kemudian berjalan perlahan kearah tangga.
“aniyo, aku baru saja tiba,” jawabku kemudian, aku menaiki tangga perlahan. Deritnya terdengar jelas sekali ditelingaku, sepertinya butuh banyak perbaikan.

Mataku tertuju pada satu pintu di lantai dua. Satu-satunya pintu yang berwarna pink lembut, favoritku. Aku menahan nafasku, begitu banyak kenangan yang kulewati di rumah ini, terutama di kamar ini. Sejak aku masih balita sampai lima tahun yang lalu.

Suasana yang aku rindukan sangat terasa saat aku memasuki kamar itu, taka da yang berubah. Semua masih ada pada tempatnya. Hanya saja tertutupi oleh kain putih agar tidak berdebu. Aku menyibakkan tirai putih yang menutupi jendela kamarku, membiarkan cahaya matahari siang itu menerobos masuk kedalamanya.

Secara tak sengaja, mataku tertuju pada satu pigura. Pigura yang mengembalikan ingatanku pada masa SMA, pigura yang mengingatkan ku padanya. Aku meniupnya perlahan, berusaha menghilangkan debu yang menumpuk menutupi permukaannya. Senyumku mengembang saat memperhatikan foto itu, foto seseorang yang berpose aegyo disampingku.

“fujita Arashi” gumamku perlahan.

Saat menyebut namanya, aku mengingat sesuatu. aku bergegas mencari sesuatu di meja belajarku.
“ah ketemu,”sorakku. Rupanya suaraku mangagetkan bibi dan suaminya, sehingga mereka tergopoh-gopoh mendatangi ku.
“ada apa soora ssi, apa ada yang salah?” tanya bibi itu dengan suara yang berat karena lelah terburu-buru menaiki tangga.
“ah.. aniyo. Mianhamnida, tidak ada apa-apa. Maaf,” kataku sambil membungkuk. Bibi mengibaskan tangannnya, “ah sudahlah, tidak apa-apa. Kalau anda butuh apa-apa panggil aku atau suamiku,” kata bibi kemudian.
Aku mengangguk. “ gamsahamnida,”.

Setelah bibi dan suaminya pergi, aku bergegas menghapus debu di meja dengan tanganku, meniup-niupnya hingga sedikit terbatuk. Tetapi kemudian, ku tersenyum senang saat membacanya,

“Toiki ga sutto nobotte fuyumekusora tokedashita
sunda kuuki ni kokoro wa arawarete sakanoboru
tachitomattari mawarimichi mo shitakedo
hitotsu hitotsu ga daisetsunaku kioku
kyou no youni itsuno himo kimi to tomo ni
(Nafas putih menghembus ke langit musim dingin, ia pun menguap lenyap
Hatiku terbasuh udara bening, tenggelam dalam pecah kenangan
Ada kalanya tiba waktu berhenti, ku berputar dalam lingkar tak berujung
Satu demi satu keping kenangan berharga itu…
Selalu ku berbagi denganmu seperti hari ini).

Ternyata masih ada, tidak terhapus. Tulisan yg ia torehkan di meja ini saat membantuku memindahkannya dari kamar oppa. Apa dia masih mengingatnya?

“fujita arashi, aku merindukanmu” kataku sembari memeluk pigura di lenganku.





.. continue ..

click the labels at the left side to see another labels of our story

[special part] a letter from [to] a friend

Posted by : Sisterhood di 09.20 0 Comments


Yang lee joon

Joon  menatap buku harian di tangannya, sudah hampir sebulan sejak kepergian hana.  Ryu memintanya untuk menyimpan benda berharga  milik hana.  Karena ryu tau, hana ingin selalu berada di sisi joon walaupun dia tak lagi ada. Joon menerima buku harian hana dengan senyum kecut, hatinya masih berat menerima kenyataan yang terjadi padanya, tapi ini semua sudah takdir.

Tiba-tiba mata joon tertuju pada satu halaman di buku harian hana,

aku sangat bahagia dengan hidup ku kini.
Aku punya papa mama, ryu, yuki, dan kini aku memiliki joon.
Aku menyayangi mereka semua”

Disamping tulisan itu hana menempelkan fotonya yang tengah tersenyum riang bersama yuki, foto ryu saat masih kecil bersama papa mamanya,dan foto joon saat baru bangun tidur.

“hana, aku merindukan keceriaanmu itu,” joon mengelus foto hana, kemudian melanjutkan membaca di halaman selanjutnya. “tanggalnya tidak urut, aku rasa dia melewatkan beberapa bulan,” batin joon

I want to kill you! Hey YANG LEE JOON!”

Joon tersenyum melihat tulisan itu, hana selalu mengatakan itu jika mereka bertengkar. Dibalik halaman itu, hana menempelkan beberapa foto mereka saat di jogja. Joon masih ingat ketika hana berjanji padanya, bahwa satu saat dia akan mengunjungi joon di Seoul. Sayangnya, hana datang dengan kondisi yang membuat hati joon terluka.

semua berakhir
Ga ada lagi panggilan ‘ara’
Ga ada lagi privat hangeul
Ga ada lagi webcaman sembunyi-sembunyi
Semua karena kamu dan dia”

Joon menghela nafas melihat tulisan itu, dia merasa sangat bersalah. Karena kesalahannya dulu, yang tidak pernah bisa meyakinkan hana hingga hubungan mereka yang menjadi korbannya. Saat dia ingin menjelaskan segalanya, hana justru telah tiada.

“aku suka dia.. cowok menyebalkan tapi aku suka.. Suka suka suka”

Ada satu foto tertempel di sudut tulisan itu. Foto yang sepertinya diambil diam-diam..

“aku tak bisa mengatakannya, apakah aku harus diam saja?,”

Joon tersenyum “ bahkan disaat jatuh cinta,kau sangat menggemaskan hana,”batin joon. Joon masih asyik membolak-balik buku harian milik hana, baginya hanya itu cara untuk mengobati kerinduannya pada hana,selain memandangi fotonya tentu saja. Hingga tiba-tiba telepon selulernya berdering,

“aku akan segera kesana,” kata joon sembari bergegas mengambil tasnya. Namun dia segera meletakkannya kembali, seprti melupakan sesuatu. Diambilnya pena biru pemberian hana waktu di jogja dulu, dia masih menyimpannya. Kemudian menuliskan sesuatu di halaman terakhir buku harian hana.

“ hana azuura, my dear ara
Seandainya kau bisa membaca tulisanku ini, mungkin kau akan tau apa yang ada dalam hatiku ini. I miss you,ara.

Secepat itu kau pergi, bahkan kita belum sempat mengunjungi pulau jeju bersama. Kau ingat, dulu kita sepakat akan berlibur kesana saat kau mengunjungiku. Sayangnya, kau datang dengan kondisi seperti itu. Yang jelas-jelas membuat aku terluka.

Kau tau, aku merindukan keceriaanmu hana. Bisakah kau kembali? *ah ini pertanyaan bodoh, kau takkan pernah kembali lagi kan.

Aku bahkan belum sempat meminta maaf padamu hana. Apa kau masih ingat min yu? Seandainya saat itu lidahku tak kelu saat dihadapanmu, kejadiannya takkan seperti ini bukan. Dia hanya teman semasa kecilku, maaf membuatmu salah paham. Maaf, aku telah bertindak seperti pecundang.

Hana, aku merindukan tawamu. Bisakan kau tertawa untukku lagi?
Terima kasih telah membawa pelangi dalam hidupku, kau bintangku hana..
Hana, mianhamnida...
Neul saranghae hana azuura, saranghaeyo”

Joon menutup buku harian hana,, tangannya terasa sangat berat saat akan menyimpan buku harian itu di dalam kotak biru milik hana.  Beberapa bulir airmatanya menetes. Joon segera menghapusnya dengan lengannya.

“mianhamnida hana..mianhamnida,” raung joon berkali-kali sambil menghapus airmatanya.
Joon terluka, sangat terluka. Kehilangan sosok hana yang sangat ia cintai, sosok hana yang sangat dia rindukan, sosok hana yang membawa pelangi dihidupnya






A LETTER FROM [TO] FRIEND part 1

Posted by : Sisterhood di 21.20 0 Comments

A LETTER FROM [TO] FRIEND
PART 1
HANA AZUURA
bulan desember tiba. seperti biasa setiap tahunnya aku dan yukiko,sahabatku saling berkirim "surat akhir tahun"
untuk menceritakan kejadian-kejadian "aneh" yang kami alami selama setahun terakhir. padahal teknologi sudah canggih,tapi inilah unikknya kami. dan kali ini giliranku yang pertama menulis.
agak malas aku bangun dari tidurku, mengambil secarik kertas, pulpen tinta biru dan mulai menulis,walaupun masih sangat ingin tidur.
semarang 5 desember 2010
to my dearest bestfriend
yukiko apriliyanti
hey yooo.... huuuaaaaam
whats up beb...huwahahahaha
apa kabar?

aku masih ngantuk waktu nulis ini, jadi tulisan ku ga karuan :P
tau kan hobi ku ini...hihihi
bagaimana akhir tahun mu? akhir tahun ku sangant buruk! aku hanya menghabiskannya di rumah.
nonton tv,tidur dan sebagainya.
huwaaah..rasanya pengen cepat ke situ.... >.<

hey..hampir saja aku lupa...
I want to tell you about "him" :)
oowh.. you must see his face at that night...
I always wanna laugh when I think about it :P

how about your day???
tell me okay...
I'm still sleepy....zzzz

bye my dearest bestfriend


from your lovely super cute best friend
hana azuura



YUKIKO APRILIYANTI

Tok Tok Tok Tok.....

Pintu kamarku diketuk dengan halusnya. Aku hanya melirik sejenak dan kembali meringkuk dibalik selimut.

TOKKK TOOKKKKK TOOOKKKK !!!

Ketukan halus itu berubah menjadi ketukan kasar.

“Iya....”teriakku.

Dengan wajah kusust aku membuka pintu dan melihat penjaga kost menyodorkan sesuatu padaku-sebuah 
surat.

“Makasih Pak” kataku dengan riang. Aku membukanya dengan tidak sabar.
“Hahahahah, I know it”
Aku membaca surat tersebut dengan seksama, surat dari seorang sahabatku yang aneh di belahan dunia lain- Hana.
Aku tersenyum saat tahu kebiasaannya bermalas – malasan masih saja seperti dulu. Sesaat kemudian aku telah duduk di meja belajar sambil menulis.

Bandung, 7 Desember 2010 
To : my lovely odd friend :p – Hana (yori dango) Azuura
Hey aku baik – baik saja disini, masih hidup, masih bisa berdiri, bahkan membaca dan membalas suratmu, hahahaha. How about u?
Kebiasaan malasmu sebaiknya cepat dihilangkan !! Tirulah aku yang manis dan rajin ini (no offense). Jangan keseringan begadanglah, gak baik buat kesehatan. Aku udah insaf nih, gak mau begadang lagi, heheheheh
Tahun baru? Kayaknya aku bakal ke rumah tanteku tapi gak tahu juga ya, lihat sikon juga :p
Kenapa kamu gak jalan – jalan saja? Daripada tahun baruan di rumah, Its kinda bored huh.
Banyak sekali yang mau aku ceritakan. Aku rasa kertas ini tidak akan mampu menampung semua ceritaku, hahahahahha.
Bagaimana dengan teman – temana disana? Apa kamu udah nemuin sahabat yang baru?
Kalau aku disini biasa aja. Rasanya kange. Awalnya aku pikir aku akan menemukan sahabat yang baru yang baik sepertimu dan sahabat kita sewaktu SMA. Ternyata tidak.Everything has changed.
Ada saja orang yang bermuka dua, iri, dan lain – lain. Mungkin tidak seharusnya aku menjadi terlalu dekat  kalau aku belum terlalu mengenal seseorang. There is no secret between true friends. Itu yang aku tahu. Tapi, kalimat itu hanya bisa diterapkan saat aku bersamamu. Kapan sih kita bisa ketemu lagi?
I swear that I hate the condition that made me feel like this
Ah ya, bagaimana dengan ‘dia’? U have to tell me about everything
Kamu berubah jadi gampang jatuh cinta :p tapi itu bagus juga supaya kamu gak terus tertindas. I think u know what I mean. Kalau aku disini biasa aja. There’s no someone special. Kamu tahu kan aku susah banget suka ma seseorang. Sekarang yang ada dipikiranku hanya kuliah dan belajar. Beban berat jadi anak pertama nih.
Kamu juga jangan keseringan mikirin cinta :p
Ah yah, finally aku bisa lupain orang aneh yang sempat buatku menderita. Gak hanya itu, dendamku ke dia dan dia juga udah gak ada. Waktu menyembuhkan segalanya J
Ah ya, hampir kelupaan. Hari – hariku disini biasa saja. Aku sibuk dengan tugas dan rapat. Aku mulai bergabung ke beberapa organisasi di dalam dan luar kampus. Kamu juga dong mulai ikutan aktif :p Jangan jadi kupu – kupu (kuliah pulang – kuliah pulang) hahahahahaha.
Then, how about ur day at there? Hope u did something nice :p
Eh eh, suratmu (as usual) terlalu pendek, hahahahaha.
Sebenarnya aku masih ingin nulis sih tapi bingung harus mulai darimana lagi
(Akhir surat yang ngegantung, hahahha)
Reply it ASAP :p
From your sweetest friend
Yukiko Apriliyanti.


Aku tersenyum memandang surat yang ku pegang dan memandang album foto di laci meja.



PART OF A LETTER FROM [TO] FRIEND :


PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8



click the labels at the left side to see another labels of our story