AISHITERU – SARANGHAEYO
PART 3
FUJITA ARASHI
Setahun lebih Sora mengajariku segala hal mengenai Korea, mulai dari bahasa, budaya, tempat wisata, bahkan makanan khas Korea. Aku ingat dulu aku sempat terkecoh saat melihat Sora mengenakan pakaian yang mirip dengan kimono namun lebih mengembang dan cenderung tidak terlalu bermotif.
Hari itu adalah hari dimana sepupu Sora, Lee Sung Min menikah. Sora mengatakan padaku bahwa baju yang dikenakannya itu bernama Hanbok. Jika kimono harus memakai obi maka hanbok tidak perlu memakainya, dan hanya memiliki sebuah pita yang melintang ke arah rok atau chima. Pita itu dinamai otgoreum. Aku senang melihat Sora mengenakan baju itu, wajahnya tampak terus merona merah. Aku seperti merasakan sebuah debaran aneh saat itu.
Hampir satu tingkatan aku lewati bersama Sora. Semuanya tampak biasa dan lancar – lancar saja, namun sesuatu mulai bergelayut dihatiku saat melihat Sora mengenakan hanbok saat itu. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, karena hal itulah aku jadi semakin semangat mempelajari segala sesuatu tentang Korea dan tentang Sora.
“Tuan, apa Tuan tertarik dengan sastra Korea?” tanya Miyamoto san saat melihatku sibuk membolak balik beberapa buku diperpustakaan Ayah.
“Tidak juga” jawabku sekenanya.
Entah apa yang terjadi, Miyamoto san pun menghilang begitu saja. Aku merasa mendapatkan kembali privasiku. Aku membuka beberapa buku dan mendapati berbagai macam jenis makanan yang disukai orang Korea, salah satunya adalah sebuah makanan yang terbuat dari pasta kacang kedelai yang berbentuk persegi yang dinamakan doenjang. Bau doenjang memang aneh, Sora sempat mengajakku untuk melihat proses pembuatan doenjang. Aku sempat sangsi saat Sora mengajakku menikmati doenjang yang dibuatnya, bau khas yang doenjang yang sempat menyengat hidungku membuat otakku dengan secara otomatis mengatakan bahwa doenjang tidak layak untuk dicicipi. Namun, melihat bujukan Sora dengan wajah berkaca – kaca membuatku luluh dan mulai mencoba mencicipinya. Aku mencoba mencicipi doenjang yang telah dimasak menjadi Deonjangjjigae atau sup doenjang yang mengebulkan asap dihadapanku.
Rasa segar menyengat lidahku. Tanpa kusadari, suapan demi suapan Deonjangjjigae masuk ke dalam mulutku. Sora terlihat bersemangat saat mengetahui bahwa Deonjangjjigae yang disediakannya untukku habis tanpa sisa.
“Wah , habis juga ya”
“Ya begitulah, ternyata Sora ssi pintar masak ya” kataku sambil menyuapkan sisa – sisa Deonjangjjigae ke dalam mulut.
“Gamsahamnida, aku senang akhirnya kamu mau menikmatinya. Soalnya waktu kunjungan terakhir kita ke tempat pembuatan doenjang, kamu sama sekali tidak mau mencicipi deonjang”
Aku tersenyum kecut mendengar hal itu. Jelas saja aku tidak menikmati apapun, karena bau deonjang yang membuat indera pengecapku berhenti. Aku jadi teringat natto, salah satu makanan khas Jepang. Aku mulai menyukai doenjang dan Sora.
*
Belakangan ini aku terus menatap wajahnya. Hatiku selalu berdegup kencang saat melihatnya tersenyum dan berbicara padaku. Ada rasa menggelitik hebat. Aku ingin sekali berada didekatnya namun sisi lain diriku mencoba menahan ini semua. Aku takut Sora tidak menyukaiku dan aku akan menemukan kepahitan. Untuk sementara ini aku ingin menikmati rasa bergelayut didadaku. Tertawa – tawa mengingat semua kekonyolanku serta wajah lembut Sora.
Lee Sora, aku kagum padanya yang pandai memasak, cantik, sangat mahir berbahasa Inggris, dan baik kepada semua orang. Walaupun fisiknya lemah, dia tidak pernah ingin dikasihani. Aku sangat kagum melihatnya sewaktu pelajara olahraga tiba. Setiap murid dikelas mengatakan padanya untuk beristirahat saja, tapi dia tetap bersikeras ingin ikut serta dalam pelajaran bola tangan hari itu. Sepanjang pelajaran olahraga, dia terus tersenyum dan tidak menampakkan wajah lelah bahkan sakit.
“Sora ssi, kamu yakin tidak apa – apa?” tanyaku
“Ne~, aku tidak apa – apa kok”
Aku menatap wajahnya yang bersemu merah. Mulutku mencoba mengutarakan semua gejolak yang selama ini ku pendam. Aku harus bisa dan berani karena inilah saatnya.
“Sora ssi, aku mau bilang sama kamu . . k-k-k-kalau . .”
BUUUUUKKKKKKKKKKK. . . .
Tepat saat itu sebuah bola tangan terlempar ke kepalaku. Aku merasakan pusing yang hebat sehingga keseimbanganku pun goyah dan akhirnya aku terjatuh.
“Fujita?”
“A-a-aku baik – baik saja, a-a-aku mau ke kelas dulu”
Aku pun berlari meninggalkan Sora sebelum sempat menyempurnakan kalimatku tadi.
*
Hari ini Sora memberikanku kue jahe buatannya. Bentuknya lucu dan penuh dengan warna – warna cantik persis seperti bentuk kue jahe di dalam dongeng. Aku menyukai semua masakan yang dibuatnya sama seperti aku menyukainya.
“Tuan Arashi, apa kuenya tidak mau dimakan? Kenapa Tuan memandangnya terus?” tanya Miyamoto san saat aku terpekur di depan piano.
“Ehm , tidak apa – apa Miyamoto san”
Aku memasukkan sebuah kue jahe secara utuh ke dalam mulutku dan mulai menikmati sensasi manis dan menyenangkan. Aku tersenyum dan mulai mengalunkan not Nocturne sambil membayangkan wajah Sora.
Wajahnya yang lembut dan manis, sangat menenangkan jiwa. Aku membayangkan diriku berdiri disampingnya sambil menggenggam tangannya. Tubuhku yang lebih tinggi beberapa senti darinya terlihat sempurna. Perpaduan warna rambut kami pun terlihat cocok. Mataku yang sedikit sipit serta matanya yang teduh khas orang Korea membuat semuanya semakin sempurna.
Aku terus tersenyum membayangkan hal itu.
“Aku jatuh cinta”
***
Angin musim panas yang kering melayangkan alunan Nocturne serta rambut Fujita yang hitam kelam. Ada warna merah muda merona diantara dentingan piano. Fujita terus mengalunkan Nocturne dengan santai dan bergelora.
*****
Hari ini hari pernikahan sepupuku, Lee Sung Min. Aku akan datang bersama Fujita, Ibu yang mengusulkannya padaku. Kata Ibu, itu baik untuknya agar dia lebih mengenal kebudayaan Korea.
Aku memperhatikan bayanganku didalam cermin. Hanbok bernuansa pink dan kuning sangat indah membalut tubuhku, setidaknya begitu yang dikatakan ibu. Aku sedikit memutar tubuhku, sehingga hanbok ku sedikit mengembang dan ikut berputar. Aku tertawa kecil melihat wajahku di cermin, cukup menggemaskan sepertinya.
Tiba-tiba pintu kamarku diketuk,
“Soora ssi, tuan Arashi datang menjemput anda,” kata seorang pelayan sambil sedikit membungkukkan badannya.
“ ah gomawo. Jie eun ssi, kau tak usah membungkuk tiap kali bertemu denganku. Kita tumbuh bersama bukan, aku merasa tidak enak,” kataku sembari tersenyum padanya kemudian segera turun menemui fujita.
*
“hei, kau datang juga rupanya,” sapaku sambil menuruni tangga perlahan-lahan.
Fujita mendongak menatapku, aku lihat dia terdiam cukup lama. “ apa yang kau lihat hah?,” kataku kemudian, rupanya cukup membuatnya terkejut. “ah..bukan apa-apa. Apa benar itu dirimu Soora ssi?” katanya kemudian. “apa terlihat aneh?” tanya ku sambil memperhatikan hanbokku, mungkin ada yang aneh sehingga fujita memperhatikanku seperti itu.
Fujita menggeleng perlahan, “tidak ada yang aneh,” katanya kemudian. Aku tersenyum lega mendengarnya. “apakah itu kimono?” tanyanya padaku.
Wajah polosnya saat bertanya padaku itu membuatku ingin tertawa, namun kuurungkan niat burukku itu. Aku sedikit tersenyum, kemudian mulai menjelaskan padanya. “ini baju tradisonal korea, namanya hanbok. Memang mirip dengan kimono,hanya saja ini lebih simpel dan sedikit mengembang,”. Fujita mengangguk-angguk, aku rasa dia cukup paham dengan penjelasanku.
“mau sampai kapan kau melamun memperhatikanku seperti itu? Apakah aku terlihat cantik,” godaku, “ aniyo, aku tidak memperhatikanmu,” katanya mengelak. wajahnya yang memerah membuatku ingin tertawa terbahak-bahak.
*
Fujita cukup menikmati pesta hari itu. Menurutnya suasana tradisonal korea membuatnya betah berlama-lama disana. Aku lihat dia juga cukup banyak berbincang dengan kakakkku, entah bagaimana caranya dia bisa dekat dengannya. sepertinya apa yang telah ku ajarkan setahun belakangan benar-benar diterapkannya.
*
Semakin hari aku dan fujita semakin bertambah dekat, intensitas kebersamaan kami pun semakin sering terjadi. Seringnya kami menghabiskan waktu bersama membua kakakku penasaran mengenai hubungan kami.
Aku sedang mengurutkan foto-foto kami saat mengunjungi pabrik doenjang beberapa hari yang lalu, ketika ada suara ketukan pintu di kamarku. Aku sedikit merapikan pekerjaan ku dan bergegas membuka pintu. Aku lihat kakakku yang berdiri di depan pintu dengan wajah mengantuknya. Dahiku sedikit berkerut melihat tampangnya yang terlihat aneh itu.
“boleh aku masuk?,” katanya kemudian. Aku hanya mengangguk, mataku masih tak lepas darinya, terlihat aneh saat dia berjalan sambil menyeret-nyeret kakinya.
Aku melanjutkan pekerjaanku ketika aku lihat kakakku dengan santainya membaringkan tubuhnya di tempat tidurku, sepertinya dia hanya ingin numpang tidur. Tetapi tiba-tiba dia mengejutkanku saat mengambil selembar foto dari tanganku.
“aaah..apa yang kau lakukan oppa. Kau membuatku terkejut,” jeritku sambil melempar boneka yang sejak tadi dipangkuanku padanya. dia menangkapnya, tepat tanpa cela.
“ya! Sebenarnya apa hubunganmu dengan fujita?” tanyanya kemudian sambil melemparkann boneka itu ke langit-langit.
Aku membalikkan kursiku, kini posisiku berhadapn dengannya. “hubungan apa maksudmu?” tanyaku, tanganku memutar-mutarkan gunting yang sejak tadi kupegang.
Kakakku sedikit menghindar dariku, “Ya! hati-hati dengan guntingmu, itu bisa melukai wajahku,” katanya sambil berusaha melemparkan bantal kearahku. “ah, ternyata kau bisa mengkhawatirkan wajahmu?,” ledekku. Dia menatapku kesal, wajahnya kembali seperti semula, wajah menyebalkan.
“bisakah kau menjawab pertanyaanku?”katanya kemudian. Aku menghela nafas, “apa maunya anak ini sebenarnya,” batinku kesal.
Aku beranjak dari kursiku dan mendekatinya, “hey oppa, kau kesini hanya untuk menanyakan itu?” kataku sambil merangkulnya. Kakakku memalingkan wajahnya kearahku, “kau pikir, kau akan susah payah datang kesini untuk hal yang tidak penting?” tanyanya padaku. “apa kau pikir ini penting oppa?” tanyaku kembali padanya.
“ bagaimana tidak, jika setiap kali akan pergi kesekolah ataupun pulang dari sekolah wajahmu seperti kepiting rebus. Kupikir pasti ada apa-apanya. Apa kau menyukainya?” tanya kakakku, entah kenapa rasanya dia begitu antusias membicarakan hal ini denganku.
Aku berdiri menjauh, menghampiri jendela kamarku. Membuka sedikit tirai dan jendela, membiarkan udara malam sedikit masuk ke kamarku. Mendinginkan udara yang mulai terasa panas.
“mau jawab pertanyaanku jam berapa? Aku sudah sangat lelah,” kata kakakku mengagetkanku.
Aku menggeleng, “ entahlah oppa, setahun ini kau cukup dekat dengannya. Dia pria yang baik, sopan,dan penuh perhatian. Terkadang dadaku berdegup kencang saat mata kami bertatapan,” kataku panjang lebar. Aku duduk kembali di sampingnya, “hey oppa, apaka itu berarti kau suka padanya?” tanyaku kemudian. Tapi ternyata pria bodoh yang sedari tadi mengaggu pekerjaanku ini malah tidur dengan santainya. Dan aku terpaksa tidur di kamarnya malam ini.
“sepertinya aku memang meyukai fujita,oppa,” kataku sambil memperhatikan foto fujita yang tengah mempraktekkan membuat doenjang beberapa hari yang lalu.
click the labels at the left side to see another labels of our story



