A LETTER FROM [TO] FRIEND
PART 7
RYU AKIRA
perjalanan seminggu ini cukup melelahkan bagiku. dua bulan terakhir kuliahku pun berantakan, hampir dua minggu aku absen dari perkuliahan. tapi biarlah, semua ini demi hana. yang terpenting bagiku dia bisa sembuh. aku hanya ingin selalu berada disamping adikku tersayang ini. karena itu juga, seminggu yg lalu aku memutuskan untuk cuti kuliah.
belum ada perkembangan berarti pada kondisi hanaku. dia masih sama seperti dua bulan lalu, koma. entah apalagi yang harus aku lakukan kini. aku sudah membawanya ke Seoul untuk menemui pemuda itu, kuharap dia akan sadar karena pemuda itu datang menemuinya, sayangnya nihil. harapan ku satu-satunya hanya Yukiko. "hmmm... semoga akan ada hasilnya,"batinku.
tiba-tiba dering handphone membuyarkan lamunanku
"aku baru saja menjemput yukiko mah, 30 menit lagi sampai rumah sakit," kataku menjawab suara diseberang sana.
aku menoleh pada gadis disampingku, dia terlihat muram. sejak turun dari pesawat tadi, aku belum sekalipun melihat senyumannya untukku. "maaf Yukiko,aku melibatkanmu dalam hal ini," batinku sambil menggenggam jemarinya. dia terkejut, aku buru-buru melepasnya.
"oh my God!! apa yg aku lakukan???? stupid!," kataku menyumpahi diriku sendiri sambil meminta maaf padanya. dia hanya sedikit tersenyum geli, setidaknya kekonyolanku membuatnya sedikit tersenyum.
*
perjalannan panjang membuat aku dan yukiko kelaparan, akhirnya sebelum menemui mama, hana dan yg lain aku memutuskan untuk mengajaknya makan siang. kami tak banyak bicara selama makan, Yukiko hanya menanyakan perihal "pemuda" seoul yang ditemui hana. ternyata hal itu membuatnya penasaran, rupanya hana tidak pernah menceritakannya sedikitpun pada yukiko.
di depan kamar Hana,
"Yuki, apapun yang kamu lihat aku mohon tabahkan hatimu. ini sangat sulit bagi kita semua," aku berusaha menenangkan Yuki sebelum kami masuk ke kamar Hana.
begitu aku membuka pintu, mama langsung menghampiri kami dna menggandeng Yuki ke sisi tempat tidur Hana. dan, sudah kuduga dia tidak akan kuat sekeras apapun kau menenangkannya. Yuki menangis sejadi-jadinya, aku hanya bisa tertunduk dan perlahan "menyeretnya" menyingkir dari sana.
"Yuki, pliss don't cry.. I know it's hard to you,but I feel it too... we must be strong,girl," kataku menenangkan Yuki. seseorang menepuk bahuku, ternyata dia.
"ah...kamu baru datang? kenalkan, gadis ini sahabat Hana, namanya Yukiko. blasteran Jepang sama seperti kami," kataku padanya. dia tersenyum melihat Yuki, kemudian menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"hai Yuki, ng,...boleh aku memanggilmu Yuki?," tanyanya ragu. Yuki hanya mengangguk, dia tersenyum kemudian melanjutkan perkataannya ynag sempat terputus,
"kenalkan, aku Yang Lee Joon,"
Yuki mendongakkan kepalanya, dia menatap Lee dengan seksama. Yuki sedikit terperangah,
"rasa-rasanya aku pernah bertemu dengannya, tapi dimana,?" batin Yuki. dia sedikit ragu dengan ingatannya, kemudian dia bertanta pada Lee.
"maaf, apa kau pernah ke Jogja?,".
Lee sedikit bingung dengan pertanyaan Yuki, namun ia segera menjawabnya
"ya,, aku pernah ke Jogja, setahun yang lalu,".
sekali lagi aku melihat tatapan Yuki menjadi aneh pada Lee, namun aku tak begitu menggubrisnya karena mama berteriak memanggilku. mama histeris, aku merasakan sesuatu terjadi.
"Hana," desisku
YUKIKO APRILIYANTI
Pesawat yang aku tumpangi kini mendarat di Incheon International Airport. Aku turun dengan perlahan bagaikan melayang. Aku tidak dapat merasakan kakiku yang berbalut boot cokelat menginjak bandara Incheon yang bagaikan kerangkeng besi raksasa. Aku terus melangkah sambil mendorong troli dan menatap sekitar. Tak butuh waktu lama, aku melihat sosok Ryu yang berdiri tegap sambil melambaikan tangan. Aku tersenyum dan secara otomatis menyembunyikan kotak kayu dan surat yang terus ku pegang.
Ryu menhampiriku dan membantuku mendorong troli. Aku hanya terdiam menatapnya, andai saja keadaan Hana tidak seperti sekarang ini mungkin aku bisa berbicara banyak pada Ryu. Aku mengikuti langkahnya yang panjang menuju parkiran dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Seoul.
Mataku kini terpaku menatap ruas – ruas jalan Incheon, pikiranku dipenuhi dengan kecemasan. Aku merasa berada di dunia yang aneh. Aku tidak merasakan kehadiran siapa pun semenjak tahu Hana menderita sakit. Hati dan pikiranku masih tidak mempercayainya karena setahuku Hana memang tidak pernah terlihat sakit. Mendadak aku merasakan sebuah sentuhan ditanganku. Aku tersentak melihat tangan Ryu yang menggenggam tanganku. Seketika itu pula dia meminta maaf padaku. Aku tersenyum geli melihat tingkahnya dan merasakan kembali berpijak di dunia ini.
“Andai saja kamu tahu . .” batinku seraya meliriknya sekilas.
***
Kini kami telah memasuki sebuah daerah yang ditandai dengan sebuah tulisan hangul yang aneh. Aku mengutuk diriku sendiri yang tidak pernah serius belajar hangul.
“Sebentar lagi kita sampai, ini masih di daerah Incheon. Setelah melewati jembatan itu . . “ Ryu mengarahkan telunjuk kanannya ke arah kaca mobil lalu melanjutkan “kita istirahat sebentar lalu makan”
Aku baru tersadar kalau perutku sedari tadi terus berbunyi santai. Pantas saja aku melihat Ryu yang terkadang tersenyum.
Tak butuh waktu beberapa lama, Ryu memarkikan mobil ford hitamnya di depan sebuah restoran Galbijip. Aku terperangah menatap restoran tersebut.
“Ini . . .”
“Kamu suka Galbi kan?”kata Ryu sambil tersenyum.
Aku melihatnya sekilas lalu mengangguk dan masuk ke dalam Galbijip. Sesaat kemudian mulutku telah penuh dengan daging iga sapi yang terhidang dengan cantik di meja. Aku makan dengan cepat sambil menatap Ryu yang tersenyum.
“A-aku cuma ingin ketemu Hana secepatnya” kataku yang merasa Ryu terus menatapku dengan cara yang aneh.
“Tapi, makannya tidak perlu secepat itu juga” Ryu tersenyum sekali lagi, lalu memberikanku sebuah tissu dan memberikan isyarat untuk melap pipiku.
Kami terdiam sekali lagi seperti di dalam mobil tadi. Aku terus menunduk memperhatikan galbi yang tersisa sedikit dipiring putihku. Aku jadi teringat Hana yang selalu memarahiku bila menyisakan makanan. Tangisku ingin pecah namun suara Ryu menahannya “Yuki, Hana pernah cerita padamu tentang seorang pemuda Seoul yang ingin dia temui?”
Aku menggelengkan kepala dan berkata “Tidak, aku sama sekali tidak tahu. Lagipula untuk masalah cinta”aku membuang tatapan mataku dari Ryu lalu melanjutkan “kami jarang membicarakannya”
“Tapi, kalian kan sahabat”
“Tidak semua harus diceritakan. Tapi, Siapa pemuda itu? Apakah dia pernah menjenguk Hana?” mataku kembali menatap mata Ryu yang teduh.
Ryu tersenyum kecut dan berkata “belum”
***
Aku tidak dapat menahan tangisku saat melihat Hana yang terbaring lemah di rumah sakit. Dadaku bergetar melihat wajah Hana yang begitu pucat dan tampak semakin kurus.
“H-h-hana”
Tanganku mencoba mengelus pipinya yang putih pucat. Aku merasa tidak kuat melihatberbagai macam alat yang terpasang ditubuh mungilnya.
Aku masih menangis dan bergetar saat tangan seseorang menarikku keluar. Sebuah tissu diberikan orang tersebut padaku seraya mengatakan sesuatu. Aku merik napas panjang dan menatap orang itu yang ternyata adalah Ryu.
Ryu kini sedang berbicara dengan seseorang, seorang pria tinggi yang mengenakan topi softball hitam. Dia memperkenalkan dirinya dengan nama Yang Lee Joon. De ja vu , aku merasa mengenalnya tapi dimana?
Dengan ragu aku menanyakan padanya apakah dia pernah ke Jogja? Dan pria itu mengiyakan seketika itu pula aku tersadar akan sesuatu dan menatapnya dengan lekat. Aku ingin menanyakan hal lain namun terhambat oleh teriakan Mama Hana.
Ryu berlari ke dalam kamar, aku mengikutinya dengan cemas.

click the labels at the left side to see another labels of our story






0 komentar:
Posting Komentar