AISHITERU – SARANGHAEYO
PART 2
Fujita Arashi
Matahari bersinar terik dan menyapa seluruh belahan Seoul. Mobil ford silver berkilat tampak membawa Fujita pergi.
*
Aku merengut menahan peluh yang terus membasahi tubuhku. Aku melirik sekilas ke arah Tuan Miyamoto. Pria itu tampak sangat tenang menatap jalan lurus yang membentang dihadapannya. Terlihat sangat jelas bahwa Tuan Miyamoto telah terbiasa dengan keadaan seperti ini.
“Sudah sampai Tuan”
Aku menapakkan kakiku ke jalan berbatu yang rapi dan kokoh. Bangunan kokoh membentang dihadapanku. Beratus jendela tampak mencuat keluar dan memantulkan cahaya matahari.
Deng . . . Deng . . . Deng . . .
Lonceng kuning besar bergoyang pelan disudut utara bangunan kokoh itu. Aku menghentikan langkahku dan menatap lonceng itu sekilas.
“Sama persis dengan lonceng di Togano” batinku.
*
Seorang pria gemuk duduk dihadapanku. Dia berbicara panjang lebar mengenai sesuatu. Aku terdiam cukup lama karena mencoba mencerna apa yang dikatakan pria itu. Suara yang dia keluarkan terdengar aneh ditelingaku.
“Gomennasai” (maaf) aku memberanikan diriku untuk berbicara.
“Dia tidak mengerti apa yang Anda katakan” Tuan Miyamoto mulai membuka suaranya.
Pria gemuk dihadapanku tertawa keras, tubuhnya yang putih dan bulat terlihat berguncang. Tempat duduknya yang bisa bergoyang kesana kemari terdengar berdecit pasrah.
Pria itu lalu menjelaskan padaku tentang peraturan dan berbagai macam ketentuan yang digunakan di sekolah ini dengan menggunakan bahasa Inggris yang terbata – bata.
“Protokoler lagi”batinku.
Seorang wanita muda yang ku ketahui bernama Kim Yung Ah mengantarkanku ke kelas 1b. Wanita tersenyum saat Park Shin Hyung – kepala sekolahku – mengatakan bahwa aku adalah murid pindahan yang dia ceritakan.
“Ini kelasmu dan aku akan menjadi wali kelas barumu”
Aku tersenyum diam menatap wanita muda itu. Beberapa menit kemudian kami telah berdiri dihadapan 20 puluh murid. Nona Kim mengetuk meja dengan penghapus hitam dan mulai berbicara dengan suara yang terdengar seperti kuluman bagiku. Tatapan semua murid kiki terarah padaku.
“Perkenalkan dirimu” kata Nona Kim dalam bahasa Inggris yang kaku.
“Ohaiyou minna, Watashi ehm I’m Fujita Arashi” kataku dengan sedikit gugup.
Seharusnya aku mempelajari sedikit bahasa Korea sebelum mengikuti kepindahan Ayah. Aku merutuki diriku sendiri saat berjalan ke arah kursi yang ditunjuk oleh Nona Kim. Kini gantian Nona Kim yang tampak kesusahan berbicara dihadapan kami semua atau lebih tepatnya aku, seorang anak lelaki dari Jepang.
“Hey, aku bisa mengajarimu” suara lembut seorang gadis menyapaku.
Aku tersenyum dan mencoba membaca papan nama yang bergelayut di seragamnya. Tampak tulisan meliuk – liuk.
“Namaku Lee Sora” gadis itu mengulurkan tangannya. Aku mengagguk dan memperkenalkan diriku.
“Sora, sepertinya kamu yang akan bertanggungjawab menjadi penerjemah disini. Mengingat bahasa Inggrismu cukup fasih” kata Nona Kim seketika.
Aku kembali mengerutkan dahiku karena tidak mengerti apa yang mereka katakan. Lee Sora kembali tersenyum dan mengatakan kembali apa yang dikatakan Nona Kim. Dan disinilah awal kedekatanku dengannya.
***
Lee Soora
“ Soora-ssi, anda telah ditunggu oleh tuan muda Eun jae di mobilnya,” kata salah satu pelayan padaku. Aku mengangguk “gomawo,” kataku kemudian. “ ibu, aku pergi,” kataku sambil mencium kedua pipi wanita yang paling kuhormati itu. “hati-hati, katakan pada oppa untuk pulang lebih awal,” jawab ibu sambil mengusap lembut rambutku. “Ne,” jawabku kemudian.
*
“kenapa kau lamban sekali,” kata oppa, tanpa ekspresi. “mianhamnida oppa,” kataku pelan.
Wajahnya yang tanpa ekspresi membuatku sedikit sebal hari itu. Orang ini kenapa menjadi begitu dingin? Padahal saat kami kecil dia sangat nakal. “Dia menyebalkan” rutukku dalam hati. Sikapnya benar-benar membuat mood ku menjadi buruk. Aku memasang earphone di kedua telingaku, mencoba menghilangkan rasa kesalku padanya. Aku memperhatikan ekspresinya sekali lagi, sama sekali tak berubah.
“apa dia tak punya ekspresi yang lain?” batinku kesal.
*
Aku menyusuri jalan setapak berbatu menuju kelasku, udara di halaman yang begitu sejuk membuatku enggan untuk buru- buru ke kelas. Earphone masih terpasang dikedua telingaku, suara merdu G.na pun mengalun di iPod pink milikku.
Kelas begitu berisik ketika aku datang. Setelah meletakkan tasku di loker, aku menghampiri sahabatku,song hyun ah.
“ya! Apa yang sedang mereka ributkan?” tanyaku sambil mengambil menepuk punggungnya. Hyun Ah berbalik dengan wajah heran, “sebenarnya kau ini hidup dimana? Apa kau tidak mendengar gosipnya,hah?!,” katanya sedikit kesal. Aku terkekeh, “mian, mungkin aku sedikit sibuk,” jawabku sambil mengatupkan kedua tanganku sembari menunjukkan wajah memelas.
Hyun Ah mengibaskan tangannya sambil menggeleng, “sudahlah, kau bukan hanya sedikit sibuk. Tetapi sangat sibuk. Kau bahkan sudah jarang pergi bersamaku,” katanya kemudian. Aku merangkulnya sambil tersenyum, “maafkan aku song hyun ah, kau adalah teman ku yang paling baik,” kataku kemudian, berharap rayuanku manjur padanya.
Air muka Hyun Ah sedikit berubah, “yes,!”batinku. aku terkekeh melihat ekspresinya saat itu, sangat menggemaskan. Apalagi melihat pipinya yang begitu chubby, seperti hamburger.
Hyun Ah menarik nafas,dan segera menghembuskannya. Wajahnya memerah seperti tomat, aku menahan tawa melihatnya.
“ kau tau, ada murid baru di sekolah kita ini. Kata Mrs.Kim dia dari jepang,” kata Hyun Ah dengan mata berbinar-binar. “ooh, ternyata hanya murid pindahan. Aku kira ada sesuatu yang penting,” kataku sambil melihat-lihat keluar jendela.
Hyun Ah menepuk pundakku dan itu tidak pelan. aku meringis sambil mengelu-elus pundakku, “apa kau tak bisa lebih lembut padaku?” tanyaku padanya. Hyun Ah sepertinya tidak begitu peduli dengan kata-kataku, dia melanjutkan bagiannya lagi, “kabarnya,dia seorang pangeran,” kata hyun Ah berapi-api. “pangeran?” tanyaku kemudian. Hyun Ah mengangguk, “hmmmm,pangeran ya,” kataku.
***
Suasana kelas masih begitu berisik saat Mrs. Kim masuk, sehingga ia harus beberapa kali mengetuk meja untuk menenangkan kami.
Mrs.Kim menoleh ke arah pintu, seseorang melangkah masuk dan seketika itu juga kelas menjadi hening. Hyun Ah berbisik padaku, “itu dia, aku rasa”.
“perkenalkan dirimu,” kata Mrs.Kim pada orang itu dengan bahasa inggris yang sedikit kaku. Aku rasa Hyun Ah benar, orang ini berasal dari luar Korea. Wajah murid baru itu terlihat sedikit tegang, dengan sedikit gugup dia memperkenalkan dirinya.
“ohaiyo minna, watashi ehm I’m Fujita Arashi,”. Hening.
Mrs. Kim menunjukkan kursi untuknya, dan dia akan duduk bersebelahan denganku. Dia berjalan dengan mulut komat-kamit, aku tersenyum melihat tingkahnya.
“hey, aku bisa mengajari mu,” kataku padanya, dia menatapku heran kemudian tersenyum. Aku mengulurkan tanganku padanya, ,”namaku Lee Soora,” kataku kemudian. Dia mengangguk dan memperkenalkan dirinya padaku , “Fujita Arashi,” katanya.
Mrs. Kim sepertinya melihat adegan itu, ia kemudian memintaku menjadi penerjemah untuk Arashi. Menurutnya bahasa inggrisku cukup fasih. Fujita mengerutkan dahinya saat melihta Mrs. Kim berbicara padaku, aku paham maksudnya.
“kata Mrs. Kim, aku akan menjadi penerjemah untukmu,” kataku padanya dalam bahasa inggris. Dia hanya mengangguk-angguk, sepertinya dia paham.
***
Hyun Ah menyikut siku ku, cukup keras kali ini. Aku meringis menahan sakit, “dasar kau ini, apa tidak bisa lebih keras lagi?” kataku menyindirnya. “maaf,” katanya sambil mengatupkan kedua tangannya. Dia menggeserkan kursinya mendekatiku, sehingga menimbulkan bunyi derit yang cukup keras. Mrs. Kim menoleh pada kami, “apa yang terjadi?” tanya Mrs. Kim pada kami. “mianhamnida, Mrs. Kim. Tidak ada apa-apa,”kata Hyun Ah.
“baiklah, kalian berdua jangan berisik,” kata Mrs. Kim sambil kembali melanjutkan menulis di papan tulis. Aku menoleh pada Hyun Ah dan mempelototinya, dia hanya terkekeh.
“apa yang kalian bicarakan?,” Hyun Ah berbisik padaku. Aku hanya tersenyum-senyum, “hey, kau merahasiakannya dariku ya?” kata hyun Ah padaku.
“kami hanya berkenalan,Song Hyun Ah,” kataku kemudian padanya.
“aku rasa,mungkin kami akan mulai dekat sejak hari ini...” batinku.
click the labels at the left side to see another labels of our story



0 komentar:
Posting Komentar