AISHITERU - SARANGHAEYO [PART 1]

Posted by : Sisterhood di 03.51
AISHITERU – SARANGHAEYO

[PART 1]

Fujita Arashi

Hari ini aku kembali ke Seoul, kota yang telah memberikanku kenangan indah. Aku sangat berharap bisa melihatnya dan diberikan kesempatan untuk mengatakan hal yang selama lima tahun ini ku pendam.

“Tuan Arashi”

Seorang pria berkepala bulat melambaikan ke dua tangannya. Aku mengenal pria itu, seorang pria berbadan langsing dengan wajah sebulat telur, sebuah perpaduan fisik yang aneh. Dia adalah induk semangku semasa sekolah dulu.

“Ossashiburi da ne Miyamoto san” sapaku dengan bahasa Jepang yang kaku.

Miyamoto san tersenyum lalu membantuku mengangkat koper. Dia adalah orang kepercayaan Ayah. Sejak Ayah dan Ibu bercerai, aku memilih mengikuti jejak Ayah yang menghilang ke Korea Selatan. Ayahku adalah seorang wirausahawan yang cukup terkenal dan selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja. Sementara Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki keluarga luar biasa. Ibuku adalah anak dari Kaisar Jepang sehingga tanpa merasakan lelahnya bekerja pun, Ibu bisa menghidupi hidupnya sendiri.

Aku tidak suka semua protokoler istana, aku suka kesendirian dan keheningan. Oleh karena itu, aku mengikuti jejak Ayah ke Korea Selatan. Mungkin aku adalah satu dari sekian banyak anak yang paling senang ditinggal sendirian di rumah. Aku tidak pernah mengeluhkan kesibukan Ayah karena aku sangat menikmati kesendirianku di rumah.

“Tuan Arashi, kita sudah sampai”

Aku menengok sekilah ke arah rumah dan pintu kayu dihadapanku.

“Aku kembali” desisku.

Bunga – bunga musim semi tampak tersenyum indah menyapa Fujita. Fujita melangkahkan kakinya dengan mantap ke ruang tengah. Rumah itu masih saja sunyi seperti biasanya. Fujita tersenyum karena hal ini yang kini dia butuhkan.

“Miyamoto san, simpan disini saja koper saya. Arigatou ne  (terimakasih) “

Miyamoto san tersenyum lalu meninggalkanku sendiri di dalam rumah. Aku menarik koperku dengan semangat menaiki tangga. Ku dapati pintu kamarku yang tampak masih kokoh. Aku menarik koperku semakin cepat, aku sangat ingin merebahkan diriku di kamar itu setelah lima tahun harus berkelana ke Jepang untuk menemui Ibu.

“cheoeum mannan sarangmani cheossarangeun anijiman cheossarangeun gajang orae gieoge namneun sarangida
(Cinta pertama itu bukanlah cinta saat jumpa pertama tetapi cinta pertama adalah cinta yang paling banyak meninggalkan kenangan cinta)

Aku tertegun melihat tulisan yang terpampang di meja belajarku. Pikiranku kembali melayang ke masa SMA, masa dimana aku mengenalnya dan menemukan betapa hebatnya kekuatan cinta.




Lee Soora



Perlahan aku memasuki halaman rumah tua itu, tak banyak yang berubah. Hanya saja terdapat banyak semak belukar yang memenuhi pagar dan halaman. pintunya masih berdiri kokoh, nyaris tak ada kerusakan.  Hanya sedikit berdebu dan ditumbuhi lumut.


Aku berdiri sejenak di depan pintu, memandang sekeliling. Benar, tak ada yang berubah. Betapa aku merindukan rumah yang kutinggalkan sejak lima tahun yang lalu ini.

Bunyi derit pintu  terdengar nyaring saat aku mencoba membukanya. aku melangkah perlahan dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.

“ Lee Soora ssi”

Seorang wanita paruh baya bertubuh gemuk membuyarkan lamunanku. Rupanya bibi penjaga rumah yang datang bersama suaminya. Bibi itu bernama kim minna, beliau telah bekerja dikeluargaku sejak aku masih balita.

Ayahku seorang CEO di sebuah perusahan yang dia dirikan bersama ibu, ibu ku telah tiada tiga tahun yang lalu karena sakitnya.sedangkan kakak lelaki ku masih dalam tugas di militer. Lima tahun yang lalu aku melanjutkan studiku di belanda, dan terakhir kembali saat ibuku tiada. Kini aku memutuskan untuk menetap di sini, dirumah milik ayah ibu.

“ah bibi, anneyonghaseo,” kataku sembari sedikit membungkukkkan badan untuk memberi hormat. Bibi itu tersenyum, kemudian membalas membungkukkan badan padaku.
“anneyonghaseo soora ssi. Apakah anda lama menunggu?” tanyanya padaku. Aku menggeleng perlahan, kemudian berjalan perlahan kearah tangga.
“aniyo, aku baru saja tiba,” jawabku kemudian, aku menaiki tangga perlahan. Deritnya terdengar jelas sekali ditelingaku, sepertinya butuh banyak perbaikan.

Mataku tertuju pada satu pintu di lantai dua. Satu-satunya pintu yang berwarna pink lembut, favoritku. Aku menahan nafasku, begitu banyak kenangan yang kulewati di rumah ini, terutama di kamar ini. Sejak aku masih balita sampai lima tahun yang lalu.

Suasana yang aku rindukan sangat terasa saat aku memasuki kamar itu, taka da yang berubah. Semua masih ada pada tempatnya. Hanya saja tertutupi oleh kain putih agar tidak berdebu. Aku menyibakkan tirai putih yang menutupi jendela kamarku, membiarkan cahaya matahari siang itu menerobos masuk kedalamanya.

Secara tak sengaja, mataku tertuju pada satu pigura. Pigura yang mengembalikan ingatanku pada masa SMA, pigura yang mengingatkan ku padanya. Aku meniupnya perlahan, berusaha menghilangkan debu yang menumpuk menutupi permukaannya. Senyumku mengembang saat memperhatikan foto itu, foto seseorang yang berpose aegyo disampingku.

“fujita Arashi” gumamku perlahan.

Saat menyebut namanya, aku mengingat sesuatu. aku bergegas mencari sesuatu di meja belajarku.
“ah ketemu,”sorakku. Rupanya suaraku mangagetkan bibi dan suaminya, sehingga mereka tergopoh-gopoh mendatangi ku.
“ada apa soora ssi, apa ada yang salah?” tanya bibi itu dengan suara yang berat karena lelah terburu-buru menaiki tangga.
“ah.. aniyo. Mianhamnida, tidak ada apa-apa. Maaf,” kataku sambil membungkuk. Bibi mengibaskan tangannnya, “ah sudahlah, tidak apa-apa. Kalau anda butuh apa-apa panggil aku atau suamiku,” kata bibi kemudian.
Aku mengangguk. “ gamsahamnida,”.

Setelah bibi dan suaminya pergi, aku bergegas menghapus debu di meja dengan tanganku, meniup-niupnya hingga sedikit terbatuk. Tetapi kemudian, ku tersenyum senang saat membacanya,

“Toiki ga sutto nobotte fuyumekusora tokedashita
sunda kuuki ni kokoro wa arawarete sakanoboru
tachitomattari mawarimichi mo shitakedo
hitotsu hitotsu ga daisetsunaku kioku
kyou no youni itsuno himo kimi to tomo ni
(Nafas putih menghembus ke langit musim dingin, ia pun menguap lenyap
Hatiku terbasuh udara bening, tenggelam dalam pecah kenangan
Ada kalanya tiba waktu berhenti, ku berputar dalam lingkar tak berujung
Satu demi satu keping kenangan berharga itu…
Selalu ku berbagi denganmu seperti hari ini).

Ternyata masih ada, tidak terhapus. Tulisan yg ia torehkan di meja ini saat membantuku memindahkannya dari kamar oppa. Apa dia masih mengingatnya?

“fujita arashi, aku merindukanmu” kataku sembari memeluk pigura di lenganku.





.. continue ..

click the labels at the left side to see another labels of our story

0 komentar:

Posting Komentar