A LETTER FROM [TO] FRIEND
PART 8
RYU AKIRA
Sebulan kemudian
Aku berusaha menenangkan mama yang masih terus-terusan menangis melihat kondisi hana yg terus menurun. Papa hanya bisa terdiam di sudut koridor sambil tertunduk lesu, hana sangat berarti baginya. Bagi kami semua, aku, mama, yuki, bahkan joon.
Melihat berbagai alat kedokteran yang dipasang di sekujur tubuhnya membuatku semakin sedih, wajahnya yang ceria kini terganti dengan wajahnya yang pucat pasi. Tawanya sekarang digantikan oleh tangisan mama yang hampir setiap hari kudengar. Apalagi sejak vonis dokter sebulan yang lalu, yang akhir-akhir ini semakin jelas terngiang di telingaku. “usia hana takkan lama lagi”. Papa urung membawanya pulang ke jepang, mau tak mau kami merawatnya disini. Kata papa, kita hanya bisa pasrah.
*
Sejak tadi siang, yuki masih terlihat di taman sekitar rumah sakit. Ku lihat joon menemaninya disana, dada ku sedikit berdesir melihatnya, entahlah.
Aku menghampirinya, dia tersenyum saat menoleh kearahku. Tangannya masih menggenggam buku harian hana yang sejak dua minggu yang lalu kuberikan padanya. Tiba-tiba kulihat airmatanya menetes,
“kenapa yuki? Tanyaku seraya duduk disampingnya. Yuki menyerahkan buku harian hana padaku. Aku paham apa maksudnya, aku mulai membaca satu persatu kalimat yang ditulisakan adikku di buku hariannya.
“ aku semakin sering merasakan sakit ini. Disini, tepat didadaku. Aku takut jika satu saat aku kenapa-kenapa. Aku ingin bilang sama mama, sama onichan tapi aku takut mereka panik. Terkadang aku merasa sesak nafas. Aah..apa yang aku pikirkan, aku baik-baik saja.”
Aku tercekat, hana merasakan sakit ini sejak lama. Aku melihat tanggal yang tertera diatasnya, 2 februari 2006. Bukankah saat itu kami sedang liburan? Aku membalikkan halaman berikutnya, ada selembar foto disana. Foto hana bersama seseorang, hey itu joon! Pose mereka cukup mesra, joon merangkulnya. Aku meliriknya, tapi dia memalingkan wajahnya dariku seketika itu juga. Sebenarnya apa hubungan mereka berdua?
Disamping foto mereka, hana menuliskan sesuatu “당신을 사랑합니다 준” yang berarti “aku sayang kau,joon”. Aku melirik joon sekali lagi, kali ini dia asik bersiul-siul sendiri sambil sesekali melihat reaksiku.
“yeeey..aku suka liburan kali ini, bersama yuki dan oniichan. Ah aku bertemu seseorang disana, akhirnya tiba juga saat kayak gini. Saranghae joon”
“oniichan marah ga ya, kalo tau aku pacaran sama joon. Semoga tidak! Toh dia tau tentang joon (Mr.chubby) :P ”
Disamping kedua tulisan itu, aku lihat secarik kecil foto yang ditempelkan disana, foto seorang anak laki-laki gemuk yang dulu kerap dia perlihatkan kepadaku. Dibawahnya tertera nama seseorang “joon”. Lagi-lagi aku tercekat. “Tidak mungkin! Mr.chubby=joon???” batinku.
Di halaman terakhir, ada satu lembar foto lagi disana. Aku rasa aku tau siapa dia, joon melirik kearahku. Penasaran. Aku baru saja ingin mambaca halaman terakhir, ketika tiba-tiba handphoneku,joon,dan yuki berbunyi bersamaan.
Yuki ambruk sesaat setelah menerima telepon barusan. Joon berlari menuju kamar hana secepat kilat, sedangkan aku masih sibuk bersama seorang perawat membawa yuki keruang UGD.
“hana...”bisikku.
YUKIKO APRILIANTI
“Maaf baru sekarang muncul dihadapanmu, Hana sering cerita tentang kamu” pria yang berdiri disamping mulai membuka percakapan.
Masih tidak dapat ku percaya, Hana kini masih berbaring di kasur putih itu. Awalnya ku kira Hana akan baik – baik saja tapi sekarang. Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa setelah setahun tidak bertemu Hana, kini aku harus melihatnya dalam keadaan seperti ini. Rasanya ingin berteriak sekencang – kencangnya.
“Yuki?”
“Eh ya? Kenapa Joon?”
“Kamu pasti lagi mikirin Hana. Aku tahu kalian sering bertukar cerita lewat surat selama setahun ini. Hana sangat bahagia dan berharap bisa bertemu kamu lagi”
“Aku juga tapi bukan seperti ini”
“Yuki, maaf aku tidak bisa menjaga Hana”
“Bukan salahmu, mungkin ini takdir”
Percakapan itu pun berhenti, aku dan Joon bermain – main dengan pikiran masing – masing. Aku melirik sekilas ke arah Joon. Kini aku ingat, dialah pria yang menghampiri aku dan Hana saat liburan waktu itu. Aku tidak menyangka first love Hana, si Mr.Chubby kini telah tumbuh dewasa seperti ini. Hana memang tertutup mengenai masalah cinta, begitu pun aku. Aku berharap Hana bisa tersadar secepatnya sehingga aku bisa menceritakan semua yang selama ini ku pendam.
“Ryu” desisku.
Ryu datang dengan senyuman yang terlihat aneh. Jantung seakan ingin melompat dari tempatnya bersemayam. Aku menyerahkan diary yang sejak tadi ku pegang. Dalam diam aku memperhatikan raut wajah Ryu. Raut wajah yang selama ini mampu membuatku tenang, bahkan saat ini.
Suara G.Na yang menyanyikan lagu Kiss Me mengagetkanku. Sebuah pesan singkat tertera disana.
“Hana sudah tiada”
Seketika itu juga, kesadaranku hilang dan semuanya tampak gelap.
*
Sebulan kemudian . . .
Aku , Joon, dan Ryu hari ini akan bertemu di pemakaman Hana. Sebulan yang lalu aku merasa tidak sanggup menatap pusara yang selalu basah itu. Kesadaranku akan hilang saat mendengar kata pusara dan Hana. Aku sangat menyayangi Hana seperti menyayangi diriku sendiri, dan setelah Hana pergi separuh jiwaku seakan hilang.
“Yuki, kuatlah demi Hana”
Itu kata terakhir yang ku dengar dari Ryu sebelum aku pergi dari Seoul.
“Hana, sekarang Yuki ada disini. Lihat, dia bisa tersenyum dan berdiri disampingku” kata Ryu sambil mengusap nisan Hana.
“Hana, aku disini. Maaf aku aku . . . . Hana “
Airmataku menetes begitu saja, ternyata aku belum mampu berada disini. Aku ingin berlari sekencang – kencangnya dari tempat ini. Saat itu juga , tangan Ryu menggenggam jemari tanganku yang bergetar, sementara Joon tersenyum menepuk bahuku.
“Hana tidak akan bisa tenang kalau kamu menangis” kata Joon. Aku melihat kilatan bening disudut matanya.
Aku sadar, bukan hanya aku saja yang merasa sedih. Ryu, kakak kandung Hana pasti merasa sedih tapi dia mampu mengulas senyum saat menepuk nisan Hana. Sedangkan Joon, dia pasti merasa sangat kehilangan, sama sepertiku. Dia juga belahan jiwa Hana dan pastinya merasa sedih sepertiku. Tapi, dia kuat berdiri bersamaku dan Ryu bahkan saat Hana masih berbaring di rumah sakit. Aku juga harus kuat.
“Yuki”
Ryu memberi isyarat padaku untuk membiarkan Joon sendirian. Aku mengangguk dan melangkah bersama Ryu ke arah mobil SSC silver milik Ryu.
“Ini, surat terkahir Hana untukmu sebelum dia . . .”
Aku menatap Ryu sekilas lalu mengambil secarik kertas yang digenggamnya.
Semarang ,Yuki, aku bingung harus bagaimana sekarang ini. Akhir – akhir ini aku merasa kondisiku tidak menyenangkan. Well, sebenarnya sudah lama sih aku ngerasa ada yang aneh tapi mungkin ini gara – gara aku sudah jarang istirahat dengan teratur. Psst, jangan cerita ke kak Ryu ya, aku gak mau dia melebaykan dirinya lagi. Ingat waktu aku jatuh dari tangga, kak Ryu heboh sekali. Aku gak mau dia seperti itu lagi.Eh, btw gimana perasaanmu buat kak Ryu? Kamu suka kan ma Kak Ryu ? Hayo ngaku.
Saat membaca bagian itu wajahku bersemu merah. Aku menyingkir sekilas, menjauhi Ryu yang tampak ikut membaca surat dari Hana.
Udahlah, sama aku gak perlu malu. Aku juga mau jujur, aku suka ma cowok yang itu kamu lihat waktu liburan. Kamu bingungkan? Nanti deh kalau ketemu aku ceritain. See ........
Bagian itu terputus begitu saja, aku melihat guratan pulpen di salah satu sisi kertas itu. Mungkin saat menulis ini Hana pingsan dan tidak bangun lagi hingga saat ini.
“Yuki”
“Eh ya?”
“Hana sangat sayang sama kamu”
“Aku juga”
“Ya, sama denganku”
“Iya aku tahu, Kak Ryu memang sayang banget ma Hana. Hana sering cerita kalau . . .”
Tepat saat itu juga aku bisa merasakan aroma bvlgari semakin dekat ke arahku. Ryu memelukku seketika. Wajahku memanas.
“Maksudnya aku menyukaimu seperti Hana menyukaimu”
“M-makasih Kak, a – a ku bisa menggantikan posisi Hana untuk kakak”
“Bukan itu”
Ryu melepaskan pelukannya. Dia menatapku lekat dan sangat dekat. Aku tertunduk dan malu melihat ke dua bola matanya yang mirip dengan bola mata Hana.
“Aku menyukaimu selayaknya Joon menyukai Hana”
Wajahku semakin memanas, aku tertunduk semakin dalam.
“Yuki. Maaf kalau kamu tidak menyukai pernyataanku ini. Tapi ini pesan terakhir Hana untukku. Dia minta aku untuk jujur dengan apa yang aku rasa sebelum semuanya terlambat dan apa yang aku rasa akan berakhir dengan apa yang dialami Hana dan Joon”
“Aku suka” kataku dengan cepat dan gugup.
Ryu menarikku sekali lagi ke arahnya dan mulai berbisik perlahan di telingaku, “Harusnya aku jujur dari dulu supaya Hana bisa bahagia melihat kita seperti ini. Hana menyayangimu dan ingin kita bersatu”
“Hana, makasih. You always be my true friend” batinku.
click the labels at the left side to see another labels of our story


0 komentar:
Posting Komentar