Yang lee joon
Joon menatap buku harian di tangannya, sudah hampir sebulan sejak kepergian hana. Ryu memintanya untuk menyimpan benda berharga milik hana. Karena ryu tau, hana ingin selalu berada di sisi joon walaupun dia tak lagi ada. Joon menerima buku harian hana dengan senyum kecut, hatinya masih berat menerima kenyataan yang terjadi padanya, tapi ini semua sudah takdir.
Tiba-tiba mata joon tertuju pada satu halaman di buku harian hana,
“ aku sangat bahagia dengan hidup ku kini.
Aku punya papa mama, ryu, yuki, dan kini aku memiliki joon.
Aku menyayangi mereka semua”
Disamping tulisan itu hana menempelkan fotonya yang tengah tersenyum riang bersama yuki, foto ryu saat masih kecil bersama papa mamanya,dan foto joon saat baru bangun tidur.
“hana, aku merindukan keceriaanmu itu,” joon mengelus foto hana, kemudian melanjutkan membaca di halaman selanjutnya. “tanggalnya tidak urut, aku rasa dia melewatkan beberapa bulan,” batin joon
“ I want to kill you! Hey YANG LEE JOON!”
Joon tersenyum melihat tulisan itu, hana selalu mengatakan itu jika mereka bertengkar. Dibalik halaman itu, hana menempelkan beberapa foto mereka saat di jogja. Joon masih ingat ketika hana berjanji padanya, bahwa satu saat dia akan mengunjungi joon di Seoul. Sayangnya, hana datang dengan kondisi yang membuat hati joon terluka.
“semua berakhir
Ga ada lagi panggilan ‘ara’
Ga ada lagi privat hangeul
Ga ada lagi webcaman sembunyi-sembunyi
Semua karena kamu dan dia”
Joon menghela nafas melihat tulisan itu, dia merasa sangat bersalah. Karena kesalahannya dulu, yang tidak pernah bisa meyakinkan hana hingga hubungan mereka yang menjadi korbannya. Saat dia ingin menjelaskan segalanya, hana justru telah tiada.
“aku suka dia.. cowok menyebalkan tapi aku suka.. Suka suka suka”
Ada satu foto tertempel di sudut tulisan itu. Foto yang sepertinya diambil diam-diam..
“aku tak bisa mengatakannya, apakah aku harus diam saja?,”
Joon tersenyum “ bahkan disaat jatuh cinta,kau sangat menggemaskan hana,”batin joon. Joon masih asyik membolak-balik buku harian milik hana, baginya hanya itu cara untuk mengobati kerinduannya pada hana,selain memandangi fotonya tentu saja. Hingga tiba-tiba telepon selulernya berdering,
“aku akan segera kesana,” kata joon sembari bergegas mengambil tasnya. Namun dia segera meletakkannya kembali, seprti melupakan sesuatu. Diambilnya pena biru pemberian hana waktu di jogja dulu, dia masih menyimpannya. Kemudian menuliskan sesuatu di halaman terakhir buku harian hana.
“ hana azuura, my dear ara
Seandainya kau bisa membaca tulisanku ini, mungkin kau akan tau apa yang ada dalam hatiku ini. I miss you,ara.
Secepat itu kau pergi, bahkan kita belum sempat mengunjungi pulau jeju bersama. Kau ingat, dulu kita sepakat akan berlibur kesana saat kau mengunjungiku. Sayangnya, kau datang dengan kondisi seperti itu. Yang jelas-jelas membuat aku terluka.
Kau tau, aku merindukan keceriaanmu hana. Bisakah kau kembali? *ah ini pertanyaan bodoh, kau takkan pernah kembali lagi kan.
Aku bahkan belum sempat meminta maaf padamu hana. Apa kau masih ingat min yu? Seandainya saat itu lidahku tak kelu saat dihadapanmu, kejadiannya takkan seperti ini bukan. Dia hanya teman semasa kecilku, maaf membuatmu salah paham. Maaf, aku telah bertindak seperti pecundang.
Hana, aku merindukan tawamu. Bisakan kau tertawa untukku lagi?
Terima kasih telah membawa pelangi dalam hidupku, kau bintangku hana..
Hana, mianhamnida...
Neul saranghae hana azuura, saranghaeyo”
Joon menutup buku harian hana,, tangannya terasa sangat berat saat akan menyimpan buku harian itu di dalam kotak biru milik hana. Beberapa bulir airmatanya menetes. Joon segera menghapusnya dengan lengannya.
“mianhamnida hana..mianhamnida,” raung joon berkali-kali sambil menghapus airmatanya.
Joon terluka, sangat terluka. Kehilangan sosok hana yang sangat ia cintai, sosok hana yang sangat dia rindukan, sosok hana yang membawa pelangi dihidupnya



0 komentar:
Posting Komentar